SAYAP-SAYAP KEHIDUPAN

Posted on November 22, 2007. Filed under: Cerpen, humaniora, Sastra |

SAYAP-SAYAP KEHIDUPAN

Kristina Simbolon

Sahabat adalah saudara angkat dalam keluarga. Begitulah arti persahabatan bagi empat anak yang masih duduk di bangku SMU ini. Persahabatan yang dibina sejak kecil memang tidak gampang. Pertengkaran demi pertengkaran akan selalu menghiasi perjalanan mereka. Tapi sahabat yang sudah dianggap sebagai anggota baru dalam keluarga, maka segala bentuk kesalahan dan pertengkaran tidak akan berarti apa-apa seperti angin lalu. Tapi bila kebohongan demi kebohongan mulai menghiasi perjalanan mereka, masihkah persahabatan itu bisa dipertahankan?

Keempat anak ini tak lain adalah JAMES, cowok ini dikenal lebih bersikap dewasa dibandingkan yang lainnya; ROMY, kalau cowok yang satu ini dikenal dengan amarahnya yang gampang meledak; ELY, dikenal sebagai cowok yang pendiam dibandingkan yang lain; dan yang terakhir ALEXA, gadis ini baik dan sederhana. Sekarang ini mereka sekolah di SMU MULIA BHAKTI. Masih duduk di bangku kelas 2(dua), tepatnya di kelas 2-A.

Setiap hari(kecuali hari libur, loh) mereka berangkat ke sekolah dengan jalan kaki. Selain karena jaraknya yang hanya kurang lebih Seratus meter itu, mereka juga bisa sekalian olahraga. Yah, walaupun kadang-kadang begitu tiba di sekolah, keringat sudah membasahi tubuh mereka. Tapi mereka tidak mau tahu soal itu. Karena dalam setiap mata pelajaran sekolah tetap saja mereka lebih baik di kelasnya. Tak heran kalau anak-anak di sekolah itu sudah tahu semua hal yang bersangkutan dengan mereka.

Langit tampak mendung. Yah, walaupun kenyataannya masih siang menjelang sore. Bulan ini memang lagi musim hujan di kota mereka. James, Romy, Ely dan Alexa masih berada di ruangan kelas 2-A. Padahal sudah sejam yang lalu bel pulang sekolah berdentang. Tapi mereka belum berniat untuk pulang.

Alexa tampak menangis di lengan James. James hanya bisa mengusap-usap bahu gadis itu untuk menenangkannya.
“Aku akan menghajarnya sampai mampus!!” bentak Romy sembari mengepalkan tangan kanannya. Wajahnya tampak memerah menahan amarah. Ely yang duduk disebelah Romy hanya bisa menatapi Alexa yang tempat duduknya tepat dihadapannya.
“Kamu tidak perlu melakukan itu!” kata Alexa diantara isakannya.
“Dia pantas menerima itu. Kalau aku tidak menghajarnya, dia akan berbuat seenaknya.” kata Romy.
“Aku kan sudah bilang, kamu tidak perlu melakukan itu!!” bentak Alexa sembari membalikkan badan menatap Romy.
“Kamu aneh, tahu nggak?!! Dia sudah membuatmu menangis. Buat apa masih membela dia?!” bentak Romy kesal.
“Pokoknya kamu tidak boleh melakukan itu. Aku tidak mau dia sampai celaka!”
“Terserah, dech! Aku nggak mengerti jalan pikiranmu!” bentak Romy sembari beranjak dari kursinya. Ia keluar dari ruangan itu.
“Lex, kamu jangan menangis lagi, ya? Kalau kamu menangis terus..entar mukanya bengkak, loh! Kalau Tante curiga, gimana?” ujar James mencoba menenangkan gadis disampingnya. Alexa menghapus airmata yang masih jatuh membasahi wajahnya.

Hari sudah semakin gelap, padahal jam masih menunjuk pukul 15:45 WIB. Tampak dari langit titik-titik hujan mulai turun. James, Ely dan Alexa masih duduk di kursinya masing-masing. Romy masih berdiri didepan ruangan kelasnya. Ia tampak memandang seluruh lapangan sekolahnya. Tampak titik-titik hujan mulai turun semakin deras. Hujan pun turun dengan deras.
“Hujan turun lagi?! Kita gimana pulangnya, nich?” tanya Ely tampak cemas.
“Kita tunggu sampai hujannya reda.” sahut James bersikap tenang. Alexa masih bersandar dibahunya. Walau tidak lagi menangis, tapi masih terdengar sesekali sisa-sisa isakannya.
“Kalau hujannya masih belum reda sampai besok, apa kita masih harus menunggu disini?” tanya Ely lagi.
“Iya!” sahut James kesal juga.
“Masa, sich? Kalau Orangtua kita nyari-nyari, gimana?”
“Paling juga dilaporin sama Polisi.”
“Ha-ah?!!” Ely tampak melongo terkejut.
“Ya, nggak mungkinlah hujannya nggak reda. Hujannya pasti cuma sebentar. Kalau hujannya reda kita langsung pulang.” kata James kemudian.
“O-oh, bilang dong dari tadi.” gumam Ely tampak lega.
“Kamu sich?! Kebanyakan nanya?!” gerutu James.
“Baru dua pertanyaan?!” sahut Ely tak jelas. James tak lagi menanggapi ucapannya.
Hanya beberapa menit waktu berlalu, hujan pun tampak sudah mulai reda.
“Tuh, kan..aku bilang juga apa? Hujannya pasti cuma sebentar.”
“Kamu hebat, Jam’s.” ujar Ely terkagum-kagum. James mencibir mendengar pujian dari sahabatnya itu.
Begitu hujan benar-benar reda, keempat anak ini beranjak dari sekolah yang sudah sepi itu.

Alexa membunyikan bel rumah saat sudah berdiri didepan pintu. Seorang wanita membukakan pintu untuknya. Ia tampak terkejut melihat Alexa baru pulang.
“Kamu darimana saja, Lex?” tanya wanita itu cemas. Alexa tidak menjawab. Wajahnya tertunduk menyembunyikan matanya yang sembab.
“Kamu sama teman-temanmu keluyuran kemana saja? Kenapa baru pulang sekarang? Kamu pikir Mama tidak cemas sama keadaan kalian, Ha!!” bentak wanita itu.
“Maaf, Ma.” Hanya itu kata yang keluar dari mulut Alexa. Tentu saja wanita itu jadi heran dan semakin cemas.
“Ada apa, Lex? Kamu berantem lagi sama teman-temanmu?”
“Nggak, Ma.”
“Kalau nggak..kenapa kamu jadi aneh seperti itu? Kamu sakit?”
“Nggak koq, Ma. Alexa nggak apa-apa. Mm..Alexa mandi dulu ya, Ma.” gumam Alexa berlalu tanpa menunggu jawaban dari sang Mama. Wanita yang masih muda dan cantik itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap Puteri semata wayangnya. Alexa masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintu. Bukannya pergi mandi, ia malah membaringkan tubuhnya dan kembali menitikkan airmata.

Sebulan kemudian…
Pagi ini matahari tampak cerah karena langit terlihat bersih tanpa awan. Walaupun masih bulan musim hujan, tapi terlihat hari ini akan cerah-cerah saja. Tapi cerahnya hari ini tidak akan berpengaruh sama suasana hati Alexa. Tetap saja hatinya mendung diselimuti kabut hitam.
“Lex, udah dong! Kalau kamu tetap mikirin dia terus.. aku bakal beneran menghajarnya!” kata Romy saat mereka tengah mengayunkan kaki menuju sekolah.
“Iya, Lex. Kamu bikin kita jadi merasa bersalah saja.” tambah James. Alexa tak menanggapi ucapan cowok-cowok disebelahnya.
“Yeee..kita dianggap kayak cacing aja?! Mau teriak juga kagak ada yang dengar.” gerutu Romy. James dan Ely hanya mengangkat bahu menanggapi ucapan Romy.
“Ya udah, dech..kita tunggu saja sampai dia bosan melamun. Berbagai macam cara udah kita lakuin buat menghibur dia, tetap aja kayak mayat hidup.” desah Romy. Kembali kedua cowok itu menanggapinya dengan angkat bahu.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di sekolah. Keempat anak ini langsung menuju ruangan mereka.
“Ada kabar buruk, Jam’s.” ujar seorang cewek begitu mereka masuk kedalam ruang kelas 2-A.
“Kabar buruk apa maksud kamu?” tanya James mengerutkan kening. Ia dan yang lain duduk di kursi masing-masing.
“Dengar-dengar, pagi ini kelas kita bakal kedatangan anak baru.”
“Terus?? Apanya yang aneh?? Bagus dong kalau kita kedatangan anak baru.” komentar Romy.
“Yeee, makanya dengar dulu! Anak baru itu sekolah disini gara-gara dipecat dari sekolahnya. Katanya, anak itu biang onar. Suka bikin masalah.”
“Itukan katanya!” ujar James.
“Ya sudah kalau tidak percaya. Nanti kalau sudah lihat, kamu pasti percaya sama aku.”
“Okey!” ujar James. “Aku mau lihat apa kamu benar atau nggak!?”
Bel berdentang. Itu pertanda jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Anak-anak SMU Mulia Bhakti masuk kedalam ruangannya masing-masing. James, Romy, Ely dan Alexa sudah duduk di kursinya sejak tiba di sekolah. Beberapa menit setelah bel, seorang guru wanita masuk kedalam kelas 2-A. Ia masuk kedalam kelas bersama seorang cowok berseragam putih-biru.
“Selamat pagi semuanya!” sapa wanita itu sembari tersenyum ramah.
“Selamat pagi, Bu!” sahut sebagian anak balas menyapa. Sebagian lebih memilih diam saja.
“Pagi ini kita kedatangan teman baru. Dia pindahan dari SMU N.1.” ujar wanita itu. “Okey, anak baru! Sekarang perkenalkan diri didepan teman-temanmu.”perintah wanita itu tersenyum ramah kepada sianak baru.
“Selamat pagi! Kenalkan namaku Samuel. Nama panggilan Sam(baca:Sem).” ujar anak baru itu tanpa sedikitpun senyum.
“Okey, Ibu rasa cukup itu saja dulu. Kalau ada yang ingin tahu lebih banyak tentang Sam, nanti bel istirahat boleh ditanyakan langsung sama orangnya. “Sam, silahkan duduk di kursi kosong itu.” ujar Bu guru sambil menunjuk kursi kosong yang ada di meja paling depan tepat disamping pintu masuk ruangan itu. Sam duduk di kursi itu. Ia menatap seisi ruangan itu. Ia menatap anak yang akan menjadi teman sebangkunya. Cowok itu tersenyum. Tapi sayang, Sam tak berniat sedikitpun untuk membalasnya.
Begitu Sam duduk di kursinya, mereka pun memulai proses belajar-mengajar. Pelajaran berlangsung dengan baik dan lancar hingga bel berdentang. Jam istirahat telah tiba. Guru itu pamit pergi, anak-anak mulai bubar dari ruangan itu satu demi satu. Namun tak ada yang berani mendekati si Anak baru.
“Ya iyalah! Siapa yang berani mendekat?! Mukanya aja seram banget. Nggak pernah diajarin buat senyum, apa?!” gerutu Romy saat keempat anak ini sudah duduk di kursi di Kantin sekolah. Diatas meja dihadapan mereka tampak makanan Mie kesenangan masing-masing. Dan tak lupa minuman botol sebagai pelepas dahaga.
“Nggak boleh begitu, Rom. Kita kan belum tahu siapa dia sebenarnya. Kita tidak boleh sembarangan menilai orang seperti itu.” kata James.
“Alaaah, dari mukanya aja udah kelihatan. Kalau dia itu emang anak nggak benar.”
“Kita kan tidak bisa menilai orang dengan hanya melihat mukanya saja. Kita bukan peramal. Bisa saja kan mukanya seram tapi hatinya baik. Ada juga yang mukanya cakep tapi kelakuan nggak benar.” kata James.
“Tapi jangan lupa, Jam’s. Ada juga orang yang mukanya sangar dan kelakuan juga nggak pernah benar.”
“Sudahlah, kenapa kita malah mempermasalahkan si Sam, sich?! Yang harusnya kita pikirin tuh keadaan Alexa. Kita nggak pengen kan kalau dia jadi orang gila beneran?!” ujar James.
“Iya juga.” kata Romy akhirnya.
“Eh, dia kesini ‘tuh!” ujar Romy saat melihat Sam melangkah masuk kedalam Kantin. Keempat anak ini melihat kearah anak baru itu tanpa berkedip.
“Coba lihat lagaknya..sombong banget! Dia menatap anak-anak di kantin kayak ada dendam aja.” gumam Romy.
“Rom, aku kan sudah bilang..jangan sembarang ngomong. Kalau dia dengar bisa marah ‘tuh.” gumam James.
“Ya sudah, kalau nggak percaya kita lihat aja. Dia pasti bakal berbuat sesuatu disini. Bisa aja dia bakal mlorotin duit anak-anak disini.” ujar Romy.
“Nich, anak..kenapa nggak bisa diam, sich?!” gerutu James membungkam mulut Romy dengan telapak tangannya.
“Heh, Jam’s! Lepasin tangan kamu dong, bau comberan, tahu!” gerutu Romy.
“Enak saja bilang bau comberan. Tangan aku bau Parfum, tahu!” sanggah James.
“Parfum dari mana…bau comberan begitu?!”
“Udah, udah! Kapan diamnya, sich?! Lihat tuh si anak baru mulai bertingkah.” bisik Ely membuat James dan Romy menoleh kearah Sam. Anak itu tampak sedang bicara dengan anak lain di kantin.

“Aku suruh duduk, ya duduk saja.” perintah Sam menatap anak laki-laki yang hendak keluar dari Kantin itu dengan sorot mata yang tajam.
“A..i..iya!” sahut anak itu dengan gagap. Sepertinya ia ketakutan dibentak-bentak anak baru itu. Ia duduk dihadapan Sam.
“Kamu anak kelas 2-A, kan?”
“I..iya.”
“Anak yang satu meja sama aku, kan?”
“I..iya!”
“Bagus! Sekarang kamu sebutkan siapa namamu.” perintah Sam sedikitpun tidak beralih tatapannya dari wajah anak itu.
“Nama.. saya..Andry!”
“Andry?! Okey, mulai sekarang kamu harus ikut denganku. Aku tidak butuh jawaban iya atau tidak dari kamu. Apapun jawaban kamu, kamu harus tetap ikut denganku, Paham?!”
“Ppaham!” sahut anak itu masih ketakutan.
“Bagus, aku suka itu. Tapi ingat, apapun yang aku lakukan, kamu tidak boleh ikut campur. Urusanku tetap urusanku. Kalau kamu coba-coba ikut campur, aku tidak segan-segan membunuh kamu.”
“Iiya!”
Sam pun tersenyum dan barulah tatapannya beralih dari wajah cowok bernama Andry itu.

“Gimana, Jam’s?!” tanya Romy pelan.
“Aku sama sekali tidak menyangka.” James menggeleng-gelengkan kepala.
“Makanya aku kan sudah bilang, dia emang bukan anak baik-baik! Lihat tuh..nyari teman aja pake ngancam segala. Kasian banget tuh si Andry.” kata Romy.
“Iya juga. Si Andry bakal bulan-bulanan terus gara-gara dibentak habis sama si Sam.” kata James. “Okey, dech. Kita sudah tahu kalau dia bukan anak yang benar. Jadi kita harus bisa jaga diri. Kita tidak perlu ikut campur sama masalah dia.”
“Si Alexa gimana?” tanya Romy sembari menatap Alexa yang sedari tadi tidak membuka mulut.
“Emang kenapa sama Lexa? Kita kan lagi ngomongin si Sam. Nggak ada hubungannya sama Alexa?!”
“Ya jelas ada dong, Jam’s. Alexa itu Ketua kelas kita. Kalau sampai si Sam bersikap tidak baik di sekolah ini, si Alexa sebagai Ketua kelasnya bakal ikut kena marah sama Guru. Dia bakal dituduh nggak becus ngurus anggota.”
“Iya juga, sich?!” gumam James cemas.
“Tapi apapun yang terjadi nanti, kita harus tetap membantu Alexa. Jangan sampai si Sam berbuat kasar sama dia. Lihat tuh, ngurus diri aja dia belum bisa?! Apalagi ditambah buat ngurusin si anak baru?!” tukas Romy. Ely dan James setuju dengan ucapan Romy.
Dentang Bel terdengar kembali. Kali ini pertanda jam pulang sudah tiba. James.cs. masih duduk di kursi masing-masing. Mereka masih asyik dengan kegiatannya sendiri-sendiri. Alexa sedang melamun, Romy dan James sedang mengotak-atik Handphone-nya masing-masing dan Ely sedang membaca buku.
Ruangan itu tampak hening. Anak-anak yang lain sudah pulang hingga sekolah pun kini tampak sepi seolah tak ada penghuninya. Keempat anak ini tak perduli dengan waktu. Walaupun jam sudah menunjuk pukul 15:30 WIB, mereka tetap terhanyut bersama kesibukan masing-masing.
“Eh, udah sore tuh. Kita pulang, yuk?!” ujar Ely begitu tersadar kalau hari sudah mulai gelap.
“Emang udah jam berapa, Ly?” tanya Romy.
“Lihat aja sendiri?! Kamu kan punya handphone.” kata Ely menolak.
“Game-nya lagi tanggung, nich. Kamu kan tinggal jawab jam berapa? Pelit banget sich jadi orang?! Kalau mampus kuburannya banyak ulatnya, loh.”
“Kamu juga, kali. Setiap orang kalau udah mampus, mayatnya bakal banyak ulat.”
“Udah, dech. Sekarang jam berapa?”tanya Romy memaksa.
“Jam empat lewat lima belas menit.” sahut Ely akhirnya.
“Apa??!!” teriak James kaget.
“Yeee, aku yang nanya jam, koq malah kamu yang kaget begitu?! Biasa aja, kali?!”
“Eh, Rom. Semalam tahu nggak, aku tuh diomelin sama Mama gara-gara kita pulangnya lama.”
“Aku juga.” ujar Ely.
“Itukan tandanya kalau kita masih disayangi.” ujar Romy.
“Nah, itu dia masalahnya. Kita harus pulang. Kita nggak mau kan bikin mereka cemas gara-gara kelakuan kita.” kata James.
Akhirnya keempat anak ini keluar dari kelasnya dan mulai menyusuri lapangn sekolah. Seperti biasanya, Gerbang sekolah belum ditutup karena sebagian adik-adik kelas mereka tengah mengikuti Jam Ekstrakurikuler.
“Jalanan rame banget, ya?” gumam James saat mereka sudah berada dipinggir jalan raya.
“Yah, kayak nggak tahu aja?! Namanya juga kota besar, jalanan mana pernah sepi.” sahut Romy yang berjalan tepat diantara James dan Ely.
“Eh, kalian lihat dech, nenek yang ada diseberang jalan sana. Sepertinya mau menyeberang kesini.” ucap James sembari menunjuk seorang nenek tua yang berada diseberang jalan tepat dihadapan mereka.
“Bantuin ‘gih, Rom!” ujar James.
“Yeee…kenapa malah nyuruh aku?” gerutu Romy. “Kamu saja yang pergi. Kamu kan tahu, aku paling nggak bisa menyeberag sendirian. Apalagi kendaraan banyak begitu?! Bisa mampus aku. aku kan masih muda dan belum kawin. Kasihan dong kalau aku mati.”
“Alasan saja. Bilang saja kalau kamu tidak mau.” ketusa James kesal.
“Iya, iya..aku pergi dech.” gumam Romy membuat James, Alexa dan Ely tersenyum.
“Ya sudah, sekarang kamu pergi. Kasihan kan nenek itu?!” gumam James.
“Ngomong kasihan aja kamu bisa. Tapi yang nolongin kan aku juga.” gerutu Romy.
“Yah, entar yang dapat pahala kan kamu juga.”
“Ya udah, aku pergi dulu.” ujar Romy melangkah menuju pinggiran jalan. Begitu ada kesempatan untuk menyeberang, ia pun melangkah dengan cepat. Hanya beberapa menit saja, ia sampai diseberang jalan. Tampak ia sedang berbicara dengan nenek yang sudah sangat tua itu.
“Terima kasih ya.” kata si nenek begitu tiba dihadapan James.cs.
“Nggak apa-apa, Nek. Mm…nenek mau kemana?” tanya Romy.
“Nenek mau pulang ke rumah. Rumah nenek ada di Gang Damai.”
“Gang Damai, Nek? Tetangga dong sama kita. Aku dan teman-teman tinggalnya di Gang bahagia.” kata Romy.
“Oh, begitu ya?!” gumam si nenek dengan nada suara bergetar. Mungkin si nenek sudah kelelahan.
“Oh iya, Nek. Kalau nenek tidak keberatan, kami bisa mengantar nenek sampai ke rumah.” ujar James menawarkan bantuan.
“Tidak usah. Nenek bisa sendiri. Kalian kan harus pulang ke rumah. Sudah sore, nanti kalau orangtua kaliana cemas, bagaimana?”
“Iya, Nek.”
“Nenek pergi dulu, ya? Nenek ada urusan penting.”
“Iya, Nek.”
Wanita tua itu pun berlalu dari hadapan mereka. Begitu nenek itu hilang di gang Damai, keempat anak ini pulang ke rumah.
* * * * *

Mentari mulai mengintip dari balik awan diufuk timur. Burung-burung terbang bernyanyi diantara pepohonan yang ada dipinggir jalan. kendaraan sudah mulai ramai lalu-lalang di jalan raya. Pagi ini udara terasa dingin. Embun pagi masih tampak bergantungan di dedaunan hijau. Dibawah pepohonan yang rindang terlihat empat orang anak sekolah sedang menikmati perjalanan menuju sekolah. Sesekali terdengar tawa diantara mereka. Tak asing lagi, mereka adalah James, Romy, Ely dan Alexa.
“Kalian sudah dengar belum, kabar tentang Pak Haryanto?” tanya James.
“Maksud kamu orang nomor satu di Gang kita?” Romy balik bertanya.
“Iya! Siapa lagi coba?!”
“Dengar dong. Katanya beliau ketahuan korupsi. Iya kan? Dan sekarang kasusnya lagi diurus sama yang berwajib.”
“He-ekh. Aku sama sekali nggak menyangka loh.Orang yang selama ini kita kenalbaik, ramah, rajin beribadah, akrab sama semua orang, ternyata koruptor.”
“Iya..aku juga nggak nyangka hal itu. Aku jadi nyesal banget nge-fans sama Pak Haryanto.”
“Sudahlah! Kalian jangan ngomongin orang seperti itu. Tidak baik loh. Kan kalian sendiri sudah tahu, tidak ada manusia yang sempurna. Dan koruptor adalah kekurangan Pak Haryanto. Jadi lebih baik kita mikirin urusan kita sendiri. Lihat tuh Alexa. Lebih baik kita mikirin dia. Jangan sampai dia berubah jadi orang gila beneran.” tukas Ely.
“Tumben otak kamu encer. Di otak kamu lagi musim kemarau, ya?” tukas Romy meledek. James tertawa mendengarnya.
“Tapi Ely benar juga. Ngapain kita mikirin Pak Haryanto, sahabat kita sendiri masih perlu dipikirin. Jangan sampai sahabat kita yang satu ini jadi orang gila benar.” tambah James sembari melirik Alexa yang berjalan disampingnya.
“Lex, dari hari ke hari kerjaan kamu cuma melamun dan melamun. Kamu mikirin apa sich sebenarnya?” tanya Romy bernada kesal.
“Yakin, dech, pasti Gio lagi.” James yang menjawab. Alexa diam sembari menatap sahabat-sahabatnya.
“Lex, apa kamu masih sakit hati sama Gio? Kalau iya, biar aku menghajarnya sampai kamu merasa puas dan sakit hati kamu terobati.” ujar Romy.
“Aku kan sudah bilang, kalian tidak perlu melakukan itu.” bentak Alexa kesal.
“Terus apalagi yang kamu pikirkan? Semenjak dia mutusin kamu, kerjaan kamu cuma melamun dan melamun. Atau apa perlu kita memaksa Gio untuk balik lagi sama kamu? Kita bisa melakukannya! Kita bakal ngancam dia untuk minta maaf dan balik lagi sama kamu.” kata Romy.
“Aku kan sudah bilang tidak perlu!” bentak Alexa marah.
“Okey, tapi tolong jangan bertingkah seperti itu lagi. Kamu kamu sadar nggak, kelaukan kamu yang aneh itu bikin semua orang jadi cemas.”
“Aku baik-baik saja. Kalian tidak perlu cemas.”
“Kamu bilang baik-baik saja?” Apanya yang baik, Lex? coba lihat, apa kamu pernah bercermin, Ha!? Cara kamu berpakaian saja sudah berantakan, mirip orang gila. Dan pelajaran sekolah, apa pernah kamu dengarin guru ngomong? Mencatat saja kamu tidak pernah. Semua buku catatan kamu kosong. Apanya yang baik, Lex?!” bentak Romy.
“Jangan emosi, Rom.” gumam James menenangkan Romy.
“Kalian tidak perlu ikut campur urusanku.”
“Kamu bilang apa, Lex? Kita tidak perlu ikut campur urusan kamu? Kenapa? Kamu tidak mau lagi bersahabat sama kita-kita, Ha! Kamu bosan?” bentak Romy naik pitam.
“Udah, Rom. Kalian jangan bertengkar disini. Malu kan dilihatin sama orang?” ujar James menengahi. Romy menarik nafas panjang lalu membuangnya lagi. Alexa melangkah pergi meninggalkan ketiga sahabatnya.
“Yuk!” James menarik tangan Romy dan Ely dan mereka mengikuti langkah Alexa.
Hanya beberapa menit, mereka tiba di ruangan mereka. Baru saja mereka duduk di kursi masing-masing, tiba-tiba seorang teman kelasnya datang menghampiri mereka.
“Lex, gawat!! Sam berantem sama kakak kelas! Mereka berantem di belakang sekolah.” adunya dengan nada ketakutan.
“Kamu nggak bohong, kan?” tanya Romy tak percaya.
“Aku serius! Dia menghajar kakak kelas kita sampai babak belur.”
“Koq, bisa?? Emang ada masalah apa sampai mereka berantem?” tanya James.
“Kata anak-anak, si Sam yang duluan cari gara-gara!”
“Lex, kita kesana.” ujar Romy.
“Iya, Lex. Kamu harus segera melerai Sam. Dia itu anggota kamu.” kata anak itu.
“Itu bukan urusanku. Lapor saja sama Guru.” sahut Alexa tak acuh.
“Lex, kamu ketua kelas Sam. Kalau masalah ini ketahuan sama guru, kamu juga bakal ikut kena marah.”
“Aku kan sudah bilang, bukan urusanku!! Kamu itu ngerti Bahasa Indonesia, nggak?!” bentak Alexa menatap emosi teman kelasnya itu.
“Lex, dia emang benar. Kita harus kesana.” kata James.
“Masalah mereka nggak ada hubungannya sama aku. Terserah mereka mau berantem. Aku nggak mau ikut campur.” Alexa ngotot.
“Terserah kamu marah sama aku. Aku tidak perduli!” bentak Romy sembari menarik tangan Alexa hingga beranjak dari kursinya.
“Apa-apaan sich, Rom? Lepasin!” bentak Alexa.
“Apapun alasannya, kamu harus tetap melerai mereka.” bentak Romy sembari menarik tangan Alexa keluar dari ruangan itu, diikuti James, Ely dan teman kelas mereka.
Alexa terkejut melihat kejadian di halaman belakang sekolah. Banyak anak-anak yang berdiri mengelilingi Sam dan kakak kelasnya yang sedang berantem itu.
“Heh, kalian semua kenapa diam saja melihat orang berantem?! Bukannya ditolongin malah diplototin!” bentak Alexa membuat anak-anak yang berada di tempat itu menoleh kearahnya. James, Ely dan Romy membubarkan anak-anak yang ada di tempat itu. Sam kembali hendak menghajar kakak kelasnya. Tapi dengan cepat Alexa berdiri didepan Sam dan melindungi kakak kelasnya yang sudah tergeletak di tanah. Untung saja kepalan tangan Sam yang sudah melayang di udara berhenti didepan wajah Alexa.
“Kenapa berhenti? Ayoo, kalau kamu memang jago, hajar aku juga!” bentak Alexa. Sam menatapnya dengan sorot matanya yang tajam seperti mata elang.
“Emang kamu siapa? Ngapain ikut campur ursanku!!” gumam Sam lembut tapi terdengar tajam.
“Aku siapa itu tidak penting. Sekarang aku minta kamu jangan bikin masalah disini. Sekolah ini bukan milik kamu. Kamu tidak bisa berbuat seenaknya!” bentak Alexa. Sam tidak menanggapi bentakannya. Cowok baru di kelasnya itu malah menatapnya dari ujung kaki sampai kepala. Sikapnya membuat Alexa mengerutkan kening.
“Nagapain kamu melihat aku seperti itu?” tanyanya.
“Sepertinya aku sedang berhadapan dengan orang gila!” ujar Sam masih terdengar lembut tapi menusuk di hati.
“Aku bukan orang gila!” bantah Alexa tidak suka.
“Masa?? Apa di rumah, kamu tidak punya cermin? Coba lihat, orang waras mana yang mau berdandan kayak orang gila ke sekolah?!”
“Aku bukan orang gila!”
Sam tersenyum sinis menyambut ucapan ketua kelasnya. “Mana ada orang gila yang mau mengakui kalau dirinya emang gila.” ketus Sam. Alexa diam. Emosi, kesal dan benci menjadi satu di otaknya. Ingin sekali ia menghajar anak baru itu. Tapi ia urungkan niat sembari menarik nafas dalam-dalam. Ia membalikkan badan dan menolong kakak kelasnya yang belum bangkit dari tempatnya. James, Romy dan Ely ikut membantunya. Ketiga cowok itu membawa kakak kelasnya pergi dari tempat itu. Alexa masih berdiri dihadapan Sam dan menatap cowok dihadapannya dengan kesal.
“Apa kamu nggak punya kerjaan lain? Kalau mau unjuk gigi, caranya buakn begitu. Sekarang, unjuk gigi bukan dengan cara berkelahi, tapi dengan prestasi.” ucap Alexa. Ia melangkah pergi meninggalkan anak baru itu.
Sam tiba-tiba menarik tangan Alexa dengan keras membuat langkah Alexa terhenti. Ia menatap Alexa terkejut. Sam menariknya hingga tak tersisa jarak diantara mereka. Wajah Alexa seketika terlihat pucat. Dari wajahnya bisa ditebak kalau dia ketakutan. Tapi ia berusaha menutupinya dan membuang tatapannya dari sorot mata Sam.
“Kamu pikir, ucapan kamu barusan bermutu, Ha!1 Aku beri tahu kamu, nasehat kamu jauh lebih menjijikkan daripada apa yang aku lakukan sama anak brengsek itu! Aku menghajarnya pasti ada alasannya. Sedangkan kamu?? Coba lihat diri kamu sendiri. Aku memang baru di sekolah ini, tapi bukan berarti aku tidak tahu dengan orang-orang yang ada disekitarku. Dan kamu harus tahu, aku paling benci sama orang munafik seperti kamu, paham?!” bentak Sam sambil melepaskan jeratan tangannya dari lengan Alexa. Alexa mengusap-usap lengannya yang terasa sakit.
“Apapun alasannya bukan berarti kamu bisa seenaknya menghajar orang!!” teriak Alexa sebelum Sam berlalu dari hadapannya. Cowok itu acuh tak acuh. Ia pun hilang dibalik tembok sekolah.
“Aku samasekali tak mengerti ucapannya?? Kenapa dia malah menuduh aku munafik?!” batin Alexa bingung.
“Lex, kenapa kamu bengong saja?” tanya James tiba-tiba ada dibelakangnya bersama Romy dan Ely.
“Dia nggak macam-macam sama kamu, kan?” tanya Romy.
“Nggak, Rom.”
“Benar?? Apa dia juga nggak ngomong apa-apa sama kamu?”
“Iya, dia juga nggak ngomong apa-apa sama aku.”
“Baguslah kalau begitu. Tapi aku nggak habis pikir, dia masih baru di sekolah ini, tapi dia sudah berani bikin masalah. Berantemnya sama kakak kelas lagi?!! Apa dia nggak punya otak?” bentak Romy kesal.
“Ya sudahlah. Sekarang kita sudah tahu dia sebenarnya. Kita harus hati-hati sama dia dan kita tidak perlu ikut campur sama masalah dia lagi.” ujar James.
“Terus, Alexa gimana? Dia kan ketua kelas. Bagaimanapun juga dia tidak bisa diam melihat sikap Sam.” kata Ely cemas.
“Lex, apa rencana kamu?”
“Rencana?? Maksudnya??” Alexa balik bertanya.
“Rencana kamu untuk menghadapi Sam. Apa kamu akan melaporkan dia ke guru?”
“Mm..nggak usah.”
“Kenapa? Bukankah dia sudah keterlaluan? Baru semalam masuk ke sekolah ini, tapi sudah berani macam-macam. Apalagi kalau dia sudah lama di sekolah ini?!” kata Romy.
“Mm..mungkin Sam punya alasan tertentu sehingga dia menghajar kakak itu.” gumam Alexa.
“Maksud kamu, kamu mendukung perbuatan Sam?” tanya Romy.
“Aku tidak bilang begitu.”
“Atau jangan-jangan kamu sudah diancam sama dia.” ujar Romy curiga.
“Nggak, Rom.”
“Terus, kenapa sekarang kamu malah bela-belain dia?” tanya Romy. Alexa diam saja.
“Aku jadi curiga sama kamu, Lex.” gumam Romy menatap Alexa bingung.
“Aku nggak mau ikut campur sama masalah dia.” gumam Alexa berlalu dari hadapan sahabat-sahabatnya. Ketiga cowok itupun semakin penasaran dibuatnya.

Hari sudah sore, James, Ely, Romy dan Alexa masih duduk di halte bus, yang jaraknya tidak jauh dari sekolah. Sore ini langit tampak mendung. Keempat sahabat ini hanya diam sembari sibuk memandang kendaraan-kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya.
“Bisa nggak ya, nanti kalau kita udah lulus sekolah punya mobil sebagus itu?!” gumam James saat sebuah mobil mewah melintas tepat dari hadapan mereka.
“Bisa aja. Kamu kan tinggal bilang sama O-om dan Tante!” sahut Romy seenaknya.
“Maksud aku bukan mobil hasil minta-minta dari orangtua, tapi mobil dari hasil keringat kita sendiri.” gumam James protes.
“Bisa saja. Asalkan kita belajar dengan baik.” gumam Romy.
“Apa hanya belajar dengan baik saja kita bisa dapat mobil??” tanya James. “Kalau itu saja cukup, harusnya kita sudah punya mobil, dong.”
“Yee. maksud aku bukan sesimple itu. Nanti kalau kita belajar dengan baik, tentunya kita punya prestasi, dong. Nah, dengan prestasi kita bisa mendapat uang banyak. Uangnya kita tabung sedikit demi sedikit. Begitu uangnya sudah cukup, kita bisa beli mobil,dong.”
“Iya, tapi nanti kalau sudah tua.” ujar James.
“Ya iyalah. Tapi yang penting kita punya mobil. Daripada dimasa tua, kita juga tetap nggak bisa ngerasain gimana punya mobil sendiri?!” ujar Romy.
“Kita pulang saja, yuk! Bentar lagi mau hujan, loh.” gumam Ely begitu kedua anak itu tidak lagi berdebat. Ternyata ucapan Ely disambut baik oleh yang lain. Mereka pun beranjak dari halte Bus dan melangkah menuju Gang Bahagia yang jaraknya tidak jauh dari sana.
“Capek, ya?” tanya sang Mama begitu Alexa masuk kedalam rumah. Mamanya tengah membaca di ruang keluarga.
“Nggak, Ma.” sahut Alexa simple sembarimelangkah pergi menuju kamarnya. Wanita itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Puteri semata wayangnya memang benar-benar berubah. Semenjak beliau tahu dari sahabat-sahabat Alexa, puteri semata wayangnya itu putus cinta. Gadis itu tidak pernah lagi bicara banyak dihadapan Mamanya atau bahkan untuk curhat.
Baru saja Alexa menutup pintu kamarnya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
“Siapa?”
“Ini Mama, Lex.” sahut wanit itu dari luar. Alexa membuka pintu kamarnya dan menemukan wanita yang masih cantik itu tengah tersenyum lembut.
“Mama boleh masuk, kan?”
“Boleh, Ma.”
Wanita itu masuk dan duduk di tepi ranjang Alexa. Ia menatap puterinya yang duduk disampingnya.
“Gimana sekolahnya tadi?”
“Biasa saja, Ma.”
“Kamu sama yang lain nggak kesulitan kan?”
“Nggak, Ma.”
“Baguslah. Mm..Lex, Mama senang banget kalau seandainya kamu bisa balik lagi kayak dulu. Kamu cerita banyak soal pelajaran di sekolah, soal kegiatan kalian berempat di sekolah?. Mama kangen mendengarnya, Lex.” gumam wanita itu. Alexa hanya diam saja dengan wajah tertunduk.
“Dulu Mama tidak melarang kamu pacaran, karena Mama yakin kamu bisa menjaga diri dengan baik. Dan kamu punya sahabat yang selalu setia menjagamu. Tapi, begitu melihat keadaan kamu yang sekarang, Mama menyesal telah memberimu izin. Kalau saja Mama tidak mengizinkanmu? Mama tidak akan melihat Puteri Mama berubah jadi aneh seperti ini.” keluh wanita itu sedih. Melihat itu, Alexa luluh juga. Romy memang benar. Ia telah membuat orang-orang yang ada di sekitarnya jadi cemas.
“Kamu mau kan bikin Mama bahagia? Mama ingin kamu seperti dulu lagi.”
“Iya, Ma.” Akhirnya ucapan yang ditunggu wanita itu datang juga. Wanita itu tersenyum sembari merangkul puterinya dengan erat. Ada kehangatan yang menelusp di tubuh Alexa. Kehangatan seorang ibu yang sangat dicintainya. ama keheningan mengukung mereka.
“Ma, Lexa boleh nanya sesuatu, kan?” tanya Alexa memecah keheningan di kamar itu. Wanita itu melepaskan rangkulannya.
“Iya, boleh.” sahut wanita itu tersenyum.
“Mm..apa Alexa orangnya munafik, Ma?” tanyanya membuat sang Mama kaget.
“Koq, kamu bertanya seperti itu? Siapa yang menuduh seperti itu sama kamu?”
“Itu, Ma. Di kelas Alexa ada anak baru. Namanya Samuel. Tadi di sekolah dia berantem sama kakak kelas. Alexa nasehatin, tapi dia malah menuduh Alexa munafik.” kata Alexa menjelaskan.
“Yah, kalau kita hendak berbuat baik, ada saja orang yang tidak suka dengan sikap kita, lalu menuduh kita munafik. Kamu jangan tersinggung. Biar saja orang menuduh kita munafik, asalkan kita percaya apa yang kita lakuin itu sudah benar. Mama setuju kamu menasehati teman kamu itu. Kamu jangan peduli walaupun dituduh munafik. Yang penting kamu percaya kalau niat kamu itu baik dan tulus.”
“Alexa bukan orang munafik kan, Ma?”
“Itu kan kamu sendiri yang lebih tahu. Tapi Mama yakin, anak Mama ini bukan orang seperti itu.” ujar wanita itu tersenyum sembari mendekap lengan puterinya. Alexa pun tersenyum.
“Oh iya, Mama boleh tahu..kenapa dia berantem sama kakak kelas kalian?”
“Sebenarnya Alexa juga nggak tahu, Ma. Sam bilang, dia punya alasan kenapa sampai berantem sama kakak kelas. Tapi, Alexa bilang sama dia, apapun alasannya, dia tidak bisa main kasar sama orang.”
“Mama setuju sama sikap kamu, Lex. Dalam menghadapi setiap masalah, tidak harus diselesaikan dengan main kasar. Kamu jangan menyerah. Mama mendukung kamu untuk terus menasehati dia. Biar saja orang menuduh kita munafik, sok alim atau apapun..asalkan kita sendiri yakin, yang kita lakukan adalah baik.” ujar wanita itu sambil tersenyum.
“Yah, berbuat baik itu memang punya resiko yang berat. Tapi jangan karena memikirkan resiko itu, kamu jadi berhenti berbuat baik.”
“Iya, Ma.” sahut Alexa.
“Okey, sekarang kamu mandi sana.” ujar sang Mama beranjak dari ranjang. “ Oh iya..hari ini kalian ngerjain PR dimana?”
“Nggak ada PR, Ma. Jadi aku belajar sendiri di rumah.”
“Begitu?! Ya sudah, kamu mandi ya? Jangan lama-lama biar nggak masuk angin.”
“Iya, Ma.”
Wanita itu keluar dari kamar puterinya. Tampak binar kebahagian di wajah wanita ini. Bagaimana tidak, Puterinya yang sudah lama ia tunggu sudah kembali. Ia begitu bahagia melihat Puterinya sudah kembali terbuka dan mau bercerita padanya.

Malam ini rumah tampak sepi sekali, seolah tak ada penghuni. Romy sedang menonton TV di ruang tamu. Tapi sepertinya ia tidak tertarik dengan acara TV, karena ia hanya sibuk menggonta-ganti channel tanpa terdengar sedikitpun volumenya. Sesekali wajahnya menoleh kearah TV yang ada disalah satu dinding ruangan itu. Jarum jam tengah menunjuk pukul 20:45 wib.
Terdengar suara mobil didepan rumah. Romy bergegas membuka pintu dan melihat Papanya sudah datang.
“Baru pulang, Pa?” tanya Romy dengan nada sinis. Laki-laki parobaya itu hanya menatap Romy sembari masuk kedalam rumah.
“Kamu belum tidur, Rom?” tanya seorang wanita yang baru keluar dari mobil.
“Romy nggak bisa tidur.” sahut Romy mengikuti langkah wanita itu masuk kedalam rumah.
“Kenapa? Kamu berantem sama teman-temanmu?”
“Nggak, Ma. Romy nggak bisa tidur karena Mama sama Papa baru pulang.”
“Yah, kan kamu sendiri tahu..Mama sama Papa itu punya kerjaan banyak di kantor. Jadi kamu tidak perlu menunggu sampai kami pulang dulu.”
“Ma, kapan sich..Mama sama Papa bisa punya banyak waktu di rumah?”
“Apa maksud kamu bertanya seperti itu? Kamu sendiri tahu jawabannya. Karena Papa sama Mama sibuk mengurus kerjaan dan mencari duit untuk kamu.” ujar Pak Ady sembari menatap putera tunggalnya.
“Sampai tidak punya waktu untuk Romy, Pa?”
“Kenapa? Apa Papa harus menemanimu di rumah tiap hari? Kamu kan bisa mengajak si James, si Ely sama si Alexa untuk main kesini?”
“Pa, aku butuh Mama sama Papa sehari saja menyempatkan waktu untuk menemani Romy. Lihat, Ma, Pa.. sahabat-sahabat Romy selalu diperhatikan sama O-om dan Tante.”
“Jadi, maksud kamu..Papa sama Mama tidak perhatian sama kamu, Ha!! Lihat, uang jajan, uang sekolah, apapun yang kamu minta kami selalu memberikannya. Perhatian apalagi yang kamu mau?” bentak sang Papa jadi emosi. “Apa uang jajan kamu kurang banyak? Atau kamu ke sekolah ingin bawa mobil. Semua bisa Papa berikan.”
“Romy tidak butuh itu, Pa!! Romy cuma minta Papa sama Mama memberi waktu sedikit saja untuk menemani Romy main atau jalan-jalan.”
“Romy, Romy!! Sudahlah, kamu jangan terlalu banyak menuntut. Kamu itu sudah dewasa.” ujar sang Papa.
“Romy dewasa bukan berarti tidak butuh perhatian Papa sama Mama.”
“Tapi Mama sama Papa kerja, Rom. Harusnya kamu yang ngertiin kami. Semua yang kami lakukan hanya untuk kamu. Jadi, sebaiknya kamu jangan terlalu banyak menuntut!”
“Romy, kamu bukan anak kecil lagi yang harus kami perhatikan terus. Kamu sudah bisa menjaga diri kamu sendiri.” ujar Mama Siska dengan lembut.
“Percuma saja Romy ngomong! Romy tidak pernah didengarin. Seandainya Romy punya orangtua seperti orangtua sahabat Romy, mungkin Romy tidak menderita seperti ini.” ujar Romy membuat Pak Ady emosi.
“Apa maksud kamu bicara seperti itu, Ha!! Kamu menyesal punya orangtua seperti kami, begitu?!! Dasar anak tak tahu diuntung!!” bentak sang Ayah sembari melayangkan sebuah tamparan di wajah puteranya.
“Pa!! Jangan main kasar seperti itu!” teriak wanita itu histeris.
“Dia memang pantas Papa tampar. Dia sudah tidak menghormati orangtua.”
“Kamu nggak apa-apa, Rom?” tanya wanita itu cemas.
“Mama tidak perlu lagi perhatian sama Romy. Romy sudah dewasa, kan??” bentak Romy tiba-tiba “Mulai sekarang, Romy tidak akan menyusahkan kalian. Mama sama Papa tidak perlu lagi memperhatikan Romy. Apapun yang Romy lakukan, Mama sama Papa juga tidak usah peduli lagi!!” bentak Romy sembari melangkah masuk kedalam kamarnya.
“Romy, apa maksud kamu bicara begitu! Ingat, Papa tidak akan membiarkan kamu diluar sana bergaul sama orang-orang nggak benar.”
“Apa peduli Papa!!” bentak Romy sebelum mengunci pintu kamarnya.
Didalam kamar, Romy membaringkan tubuh. Wajahnya tampak basah.
“Aku benci mereka!!” batin Romy merintih. Kamarnya sudah berantakan. Bantal dan seprei sudah tergeltak di lantai. Begitu juga buku-buku pelajarannya yang ada diatas meja belajar. Sekarang sudah berantakan di lantai.
* * * * *

“Kenapa kamu?” tanya James saat ia, Romy, Ely dan Alexa berjalan menuju Ruangan mereka.
“Iya, mata kamu juga bengkak, Rom.” tambah Ely heran melihat mata Romy sembab. Romy tampak kaget mendengar pertanyaan yang mencurigai dirinya.
“Mm..Iya, tadi waktu aku mandi, mataku kemasukan shampoo. Jadinya begini, dech.”
“Koq, tumben mata kamu bisa kemasukan shampoo. Mandinya sambil ngeres, ya?”
“Enak saja!?” sanggah Romy sembari meninju lengan James. Ketiga sahabatnya malah mentertawainya.
“Habis, tumben-tumbenan hari gini mata kamu kemasukan shampoo. Yah, kalo bukan karena ngeres, apalagi coba alasannya?!” ledek James.
“Ya sudah, terserah kalian saja.” ujar Romy. “Maafin aku ya, sobat! Aku tidak jujur sama kalian. Aku tahu aku salah. Sebagai sahabat…aku sudah bohong sama kalian. Tapi aku tidak mau kalian tahu keadaan keluargaku yang sebenarnya. Selama ini aku bohong, kalau sebenarnya Mama sama Papa tidak memperhatikan aku..seperti kalian yang selalu diperhatikan O-om sama Tante. Aku malu kalau harus menceritakan keluargaku yang tak pernah akur. Maafin aku..” batinnya.
“Yah, nich anak?? Gitu aja pake ngambek. Kita becanda lagi?” ujar James melihat Romy diam saja.
“Abiss, kalian nuduh aku yang nggak-nggak!” ucap Romy menutupi kebohongannya.
“Kan aku udah bilang, cuma becanda. Ya udah, kalau masih marah..kita bertiga minta maaf.” kata James.
“Yeee..kita bertiga? Sendirian kali?! Yang nuduh Romy ngeres kan kamu?” bantah Ely membuat Romy tertawa.
“Iya, iya!” gumam James.
“Aku nggak marah, koq.” gumam Romy.
“Nah, gitu dong!” sambut James cepat. Beberapa menit kemudian, keempat anak ini tiba di ruangan mereka.
“Oh iya, hari ini kita ada ujian Matematika. Gimana persiapan kalian?” tanya James begitu mereka duduk di kursi masing-masing.
“Di ruangan ini kan nggak ada yang bisa menandingi nilai kita. Jadi tenang aja, Jam’s.” sahut Romy seenaknya. Tapi memang seperti itulah kenyataannya. Di ruangan ini, mereka dikenal sebagai anak yang pintar. Tak hanya di ruangan itu, bahkan diantara anak-anak kelas 2(dua).
Sam dan Andry baru saja tiba di ruangan kelas 2-A. Alexa, James, Romy dan Ely yang sudah duduk di kursinya menoleh kearah mereka. Sam menatap mereka dengan sorot matanya yang tajam. Ia mendekati meja Alexa.
“Ngapain kamu kesini?” bentak Romy kesal.
“Aku tidak butuh kamu. Aku butuh dia” sahut Sam tenang sembari menunjuk Alexa. Wajah Alexa seketika pucat.
“Kalau kamu ada urusan sama Alexa, berarti kamu juga berurusan sama kami.” bentak Romy. Sikap Sam masih terlihat tenang dan tak acuh.
“Kata siapa? Apa kalian punya peraturan tertulis seperti itu? Nggak kan? Aku harap kalian bertiga jangan coba-coba ikut campur. Salahkan dia karena sudah berani ikut campur sama urusanku.” ujar Sam.
Mendengar ucapan Sam, Romy naik pitam. Ia melayangkan tangannya untuk memukul Sam.
“Rom, aku bisa menghadapinya.” ujar Alexa dengan cepat menghalangi tangan Romy.
“Bagus!” gumam Sam tersenyum sinis menyambut ucapan itu.
“Awas, kalau sampaiterjadi apa-apa sama Alexa, kami tidak segan-segan akan menghajar kamu.”
“Coba saja kalau berani.” sahut Sam tetap tenang membuat Romy semakin jengkel saja. Sam dan Alexa hilang dibalik pintu ruangan itu.
“Andry, Alexa mau dibawa kemana?” bentak Romy menatap Andry yang duduk di kursinya.
“Aku tidak tahu, Rom.”
“Jangan bohong kamu!! Sam kan temanmu.”
“Tapi aku sama sekali tidak tahu soal itu.” sahut Andry jujur.
“Sudah, Rom. Alexa pasti bisa menghadapinya sendiri. Kamu kan tahu sifat Alexa.”
“Justru itu, Jam’s. Alexa itu suka nekat. Aku nggak mau karena sikapnya yang suka nekad, Sam menyakitinya.”
“Kamu jangan terlalu cemas, Rom. Aku yakin Alexa bisa menghadapinya. Ini kan salah kita juga. Kita yang memaksa Alexa ikut campur sama masalah Sam.”
“Apa kamu tidak cemas sama keadaan Alexa, Ha!!”
“Bagaimana aku tidak cemas, Rom?! Tapi aku bisa tenang karena aku yakin Alexa bisa menghadapi anak itu. Alexa bukan anak kecil, jadi dia pasti tahu bagaimana cara menghadapinya.” sahut James membuat Romy terdiam.
Sam menarik tangan Alexa menuju halaman belakang sekolah. Tepat dipinggir lapangan basket.
“Kamu duduk.” ujar Sam saat mereka sudah berdiri didekat kursi panjang yang ada dipinggir lapangan itu.
“Nggak mau.”
“Ayo.” kata Sam lembut.
“Nggak mau!”
“Apa perlu aku memaksamu dengan kasar?” tanya Sam mengancam walau suaranya terdengar lembut. Akhirnya Alexa duduk di kursi panjang itu. Sam mengikuti sikapnya. Ia duduk tak jauh disebelah Alexa.
“Ngapain kamu membawa aku kesini?” tanya Alexa melihat Sam diam saja dan tatapannya memandang jauh kedepan dan terlihat hampa.
“Kamu takut sama aku, kan?” tanya Sam membuat Alexa kaget sembari menoleh cowok itu.
“Kenapa aku harus takut?” sahut Alexa.
“Kamu tidak perlu bohong sama aku. Sebenarnya kamu takut, tapi berusaha menyembunyikannya.” ucap Sam membuat Alexa membuang wajah dari sorot mata tajamnya.
“Kenapa semalam kamu berantem sama kakak kelas?” tanya Alexa mengalihkan pembicaraan.
“Hebat! Kamu mau menghindar dari pertanyaan aku, kan?!” ucap Sam pelan. Alexa kembali menatap cowok disampingnya. Cowok itu membuatnya salah tingkah.
“Iya.” Akhirnya Alexa mengaku juga. “Aku memang takut sama kamu. Tapi bukan berarti aku akan membiarkan kamu mengulangi perbuatanmu kayak kemarin.”
“Aku tidak mengganggumu.”
“Tapi kamu mengganggu anak-anak di sekolah ini. Kita semua satu sekolah, itu artinya kita sudah menjadi teman. Kalaupun dia punya salah sama kamu, kamu tidak perlu main kasar. Apa susahnya maafin kesalahan orang?”
“Aku bukan orang yang dengan gampang memberi maaf sama orang.” sahut Sam seenaknya.
“Apa untungnya kamu menghajarnya?”
“Paling tidak aku merasa puas.”
“Kamu akan merasa lebih puas kalau bisa memaafkan kesalahan orang lain dengan ikhlas.”
“Okey, mungkin aku bisa menerima saran kamu yang bagus itu. Tapi sebelumnya aku mau tanya, apa kamu bisa memaafkan dia?” tanya Sam membuat Alexa kaget plus bingung.
“Dia?? ‘Dia’ siapa maksud kamu?” tanya Alexa.
“Kamu tahu siapa yang aku maksud.”
“Aku tidak tahu.”
“Mantan kamu.” sahut Sam yang benar-benar membuat wajah Alexa pucat.
“Darimana kamu tahu soal dia?”
“Itu tidak penting. Sekarang yang aku butuhkan jawaban dari kamu. Apa kamu bisa memaafkan dia? Kalau memang belum bisa, kamu tidak perlu menasehati aku. Jangan mau jadi orang munafik!”
Mendengar itu Alexa terdiam. Cowok itu benar-benar membuatnya pucat dan salah tingkah. Ia memang belum bisa memaafkan Gio. Walau ia masih sayang kepada mantan pacarnya itu, tapi kadang rasa benci juga hadir di hatinya. Gio telah membuatnya patah hati.
“Hanya itu yang ingin aku bicarakan denganmu. Jadi, aku rasa kamu sudah paham. urusan kita selesai. Aku pergi dulu.” Sam beranjak dari kursi itu dan meninggalkan Alexa yang hanya bisa menatap kepergiannya.

“Lex, kamu nggak apa-apa kan?” tanya Romy saat Alexa masuk kedalam kelas. Ternyata Sam tidak ada di ruangan itu. Alexa duduk di kursinya disamping James. Dia menatap wajah ketiga sahabatnya.
“Aku nggak apa-apa.” sahut Alexa pelan.
“Benar?” tanya Romy tidak percaya.
“Iya, Rom. Aku tidak apa-apa.”
“Terus untuk apa dia membawa kamu keluar kalau tidak ada yang mau dibicarakan?”
“Dia sama sekali tidak ngomong apa-apa.
“Kamu bohong.”
“Dia nggak ngomong apa-apa koq, Rom.” Alexa ngotot tidak mau jujur.
“Kamu tidak mau jujur sama kita-kita?” tanya Romy mulai kesal.
“Aku nggak bohong.”
“Ya, jelas kamu bohong. Nggak mungkin dia menarik kamu keluar kalau bukan untuk membicarakan sesuatu hal. Apa kamu tidak mau jujur sama kita? Apa kamu tidak percaya lagi sama kita? Apa kamu tidak mau lagi bersahabat sama kita?”
“Okey, okey, tadi aku sama Sam memang ngomong. Tapi masalahnya sudah kelar, jadi tidak ada gunanya dibicarakan lagi.”
“Kamu harus cerita. Paling tidak, kita bertiga tahu apa yang kalian bicarakan.” kata Romy membuat Alexa kesal juga. James dan Ely hanya diam menatap kedua sahabatnya.
“Aku tidak akan ikut campur lagi sama urusan dia. Aku tidak layak menasehati dia.”
“Apa maksud kamu tidak layak? Setiap orang berhak menasehati orang lain yang melakukan kesalahan.” kata Romy.
“Tapi aku tidak mau jadi orang munafik.”
“Apa dia menuduh kamu munafik?” tanya Romy.
“Iya. Dan dia memang benar. Untuk apa aku menasehati dia agar mau memaafkan kesalahan orang lain sementara aku belum bisa memaafkan Gio.”
“Tapi masalahnya kan beda, Lex?” tanya Romy.
“Apapun masalahnya, tetap saja aku akan jadi orang munafik, Rom. Dan aku minta kalian jangan memaksa aku lagi untuk ikut campur sama masalah dia. Kalau kalianmau menghalangi perbuatannya, lakukan saja tanpa aku.” kata Alexa membuat ketiga sahabatnya diam.
* * * * *

Hanya dengan beberapa hari saja, nama Sam sudah akrab di telinga anak-anak SMU Mulia Bhakti. Nama Sam dikenal sebagai orang yang arogan. Banyak anak yang takut bila berhadapan dengannya.
“Lex, ini tidak bisa dibiarkan!” kata Romy saat Sam dan Andry belum tiba didalam kelas pagi ini. Keempat sahabat ini sudah duduk di kursi masing-masing.
“Iya, Lex. Kamu sebagai Ketua kelas harus berbuat sesuatu.” tambah Ely mendukung Romy.
“Kalian ingin aku berbuat apa? Aku bukan pahlawan. Lebih baik kalian melapor sama guru. Guru yang bisa menghentikannya.”
“Kamu yang harus melaporkannya, Lex. Itu adalah tugas kamu sebagai Ketua kelas. Kalau kami yang melaporkannya, kamu bakal dimarahi sama guru.” kata James mencoba membujuk Alexa.
“Aku tidak peduli. Dan aku tidak akan pernah ikut campur lagi sama masalah dia. Dan aku sudah bilang itu berkali-kali sama kalian.”
“Kamu memang menyebalkan! Bikin BT, tahu!!” bentak Romy menatap Alexa kesal. Ia beranjak dari kursinya.
“Mau kemana, Rom?!” tanya James kaget.
“Bukan urusanmu!!” sahut Romy tak peduli. Ia hilang dibalik pintu.
“Kamu lihat, Lex? Romy marah gara-gara ksmu nggak mau bertindak. Romy benar, Lex. Kamu harus mengambil sikap. Kelakuan Sam memang harus dilaporkan ke guru.”
“Sudahlah Jam’s. Aku kan sudah bilang, aku nggak mau ikut campur urusan dia.”
“Kenapa?? Apa hanya karena dia menuduh kamu munafik? Ini demi kebaikan kita semua.” kata James. Alexa hanya diam.
“Apa kamu masih bisa bersikap tak acuh dengan sikap Sam? Dia itu udah keterlaluan, Lex. Ingat Lex, kamu Ketua kelas yang harus bertanggung jawab terhadap anggota. Kamu harus melaporkannya sama guru.”
“Aku tidak punya bukti, Jam’s. Mana ada anak-anak yang mau jadi saksi didepan guru? Mereka takut kalau Sam akan menghajar mereka.” kata Alexa membuat James diam.
“Lex..”
“Tolong, Jam’s, jangan memaksa aku untuk melakukan itu.”
“Ya sudah, terserah kamu saja.” gumam James beranjak dari kursinya. Ia keluar dari ruangan itu diikuti Ely. Alexa hanya diam duduk di kursinya.
Baru saja James dan Ely keluar dari ruangan itu, Sam dan Andry tiba-tiba muncul didepan pintu yang terbuka lebar itu. Mereka berdua masuk kedalam kelas yang tampak sepi itu. Hanya Alexa yang duduk di kursinya sembari melamun. Melihat itu Sam melangkah menuju kursi disebelah Alexa, tepatnya di kursi James. Sedangkan Andry langsung menuju kursinya.
“Kalau sudah bosan hidup, lebih baik bunuh diri saja.” gumam Sam pelan tapi cukup membuat Alexa terkejut.
“Ngapain kamu disini?” tanya Alexa tak menanggapi ucapan Sam.
“Apa kamu tidak punya pertanyaan yang lebih bermutu?” sahut Sam. “Aku sekolah disini, jadi mau aku dimana..nggak ada yang berhak melarang.”
“Untuk apa kamu duduk di kursi itu?”
“Untuk apa? Itu juga tak ada yang berhak melarang aku.”
“Sombong banget, sich.” gumam Alexa tak jelas. “Apa kamu belum puas membuat keributan di sekolah ini? Sebenarnya mau kamu apa?”
“Aku kan sudah bilang, aku tidak butuh nasehat dari kamu.” kata Sam anteng-anteng saja.
“Aku tidak keberatan kamu menuduh aku munafik. Tapi tolong, hentikan semua perbuatanmua itu! Kamu sudah banyak menyakiti orang.”
“Yang jelas aku tidak menyakiti kamu. Apa pedulimu?”
“Karena mereka itu temanku dan teman kamu juga.”
“Teman?? Aku tidak percaya sama yang namanya teman.”
“Kamu percaya sama siapa?!” bentak Alexa. “Sama Ibu kamu?? Kalau Iya, aku akan memohon pada beliau agar menghentikan kelakuanmu itu!!”
Sam langsung emosi mendengar ucapan Alexa. Dengan keras ia menjerat lengan Alexa dan menggenggamnya dengan erat. Dia menatap Alexa dengan sorot mata tajamnya. Wajah Alexa seketika pucat dibuatnya. Tapi ia berusaha menatap wajah yang begitu dekat didepannya.
“Jangan pernah bawa-bawa nama Ibuku! Sekali lagi kamu mengulanginya, aku akan membunuhmu, Paham!!” bentak Sam.
“I..iya..ak.aku minta maaf. Aku tidak sengaja membuatmu tersinggung.” ucap Alexa dengan gagap. Mendengar suara Alexa bergetar, Sam melepaskan jeratan tangannya dari lengan Alexa. Untuk kedua kalinya, Alexa mengusap-usap lengannya yang sakit karena Sam.
“Kalau kamu takut sama aku,jangan pernah ikut campur sama urusanku. Aku tidak mengganggumu dan jangan sampai karena sikapmu, aku mengganggumu!!” kata Sam kembali terdengar pelan tapi penuh ancaman.
“Sam, aku memang tidak pantas menasehatimu. Tapi, tolong, kamu dengarkan aku. Mungkin kamu pernah dikecewakan teman-temanmu. Tapi kamu jangan menilai semua orang sama. Tidak semua orang jahat.
“Kamu mau bilang..kamu sama sahabat-sahabatmu itu orang baik-baik?
“Aku tidak bilang begitu. Aku hanya mengatakan, tidak semua orang itu jahat. Kamu jangan menilai orang hanya dengan melihatnya dari masa lalu.”
“Lebih baik kamu tutp mulut dan simpan nasehatmu itu untuk kamu sendiri. Aku tidak akan percaya sama siapapun.”
“Siapapun?? Apa termasuk kedua orangtuamu?”
“Kamu tidak usah banyak tanya. Urusanku bukanlah urusanmu.” Sam beranjak dari samping Alexa. Ia menaruh tasnya di kursinya lalu ia keluar dari kelas itu. Andry mengikutinya keluar dari ruangan itu.

“Sebenarnya aku kecewa sama kamu, Lex.” gumam Romy saat mereka berempat nongkrong di kursi yang ada dipinggir lapangan basket, tepat dibelakang rumah Romy. Sore ini mereka menghabiskan waktu di rumah Romy. Alexa yang duduk diantara James dan Ely hanya diam saja mendengar kemontar Romy.
“Hanya karena dituduh munafik, kamu membiarkan Sam berbuat seenaknya.”
“Rom, aku sudah mencoba meminta Sam merubah kelakuannya. Tapi dia tidak mau. Sepertinya dia punya masa lalu yang buruk sama temannya.”
“Tadi pagi waktu kalian ninggalin aku sendiriian di kelas, Sam menghampiri aku.” kata Alexa membuat ketiga cowok itu kaget.
“Sam menghampiri kamu?! Kenapa baru cerita sekarang?” tanya Romy.
“Apa dia menghina kamu lagi, Lex?” tanya Ely.
“Sam tidak pernah menghina aku, Ly.”
“Terus, apa tujuan dia menghampiri kamu?’ tanya James.
“Aku tidak tahu.”
“Yeee..ditanya jawabnya malah begitu. Terus, kenapa kamu bisa mengambil kesimpulan ‘dia punya masa lalu yang buruk’ kalau kamu sendiri tidak tahu apa tujuannya menghampiri kamu?” tanya Romy kesal. Alexa menceritakan kejadian di kelas saat Sam menghampirinya tadi pagi di sekolah.
“Aku yakin kalau Sam pernah dikecewakan sama teman-temannya.”
“Kamu jangan langsung mengambil keputusan seperti itu, Lex. Kita kan tidak kenal siapa dia. Bisa saja dia yang sudah kurang ajar sama teman-temannya. Dan dia hanya membela diri dihadapan kamu.”
“Untuk apa dia membela diri didepan aku, Rom?” tanya Alexa.
“Mana aku tahu?!” sahut Romy seenaknya.
“Kita harus membantunya.” gumam Alexa membuat mereka terkejut.
“Apa?? Kita membantu dia?? Nggak, Lex. Aku tidak mau titik. Ngapain juga membantu orang brengsek seperti dia.” bantah Romy
“Rom, siapa tahu dengan bantuan kita, Sam bisa berubah.”
“Berubah?? Kamu jangan mimpi, Lex. Orang seperti dia tidak akan berubah. Sudahlah, Lex. Hentikan saja niatmu itu. Aku tidak akan setuju.”
“Rom, setiap orang pasti bisa berubah.” ujar Alexa ngotot.
“Tapi tidak buat aku.”
“Jam’s, Ely, kalian setuju sama aku kan?” tanya Alexa sembari menatap kedua cowok itu.
“Aku juga bingung, Lex. Mungkin kamu benar, tapi Romy juga kemungkinan benar.” kata James.
“James benar, Lex.” tambah Ely yang sependapat dengan James.
“Jam’s, Ly, aku yakin Sam pasti bisa berubah.”
“Koq kamu seyakin itu, sich? Kita kenal dia baru semalam. Kamu jangan terlalu berharap, Lex.” ujar Romy.
“Rom, setiap manusia punya hati. Dan dengan hati, manusia akan berbuat baik. Sam punya hati.”
“Bagiku Sam tidak punya hati. Jadi lebih baik kamu hentikan niat kamu untuk membantu dia. Usahamu hanya akan terbuang sia-sia.” kata Romy tidak setuju. Alexa pun tak lagi bersuara.
“Ya sudahlah, daripada kalian berdebat terus hanya karena Sam…lebih baik kita main basket. Sudah lama kita tidak memainkannya.” kata James mebuat suasana jadi hidup kembali. Romy beranjak dari kursi, begitu juga Ely dan James. Sedangkan Alexa masih duduk di kursi itu.
“Ayo, Lex. Biar nanti pikirannya jadi segar.” ujar James menarik tangan Alexa. Akhirnya Alexa mengikuti James masuk kedalam lapangan kecil itu. Mereka mulai asyik dengan permainan yang sama-sama mereka suka. Yah, main Basket adalah Hobby mereka.

“Romy, dari mana saja kamu?!” bentak Ayah Romy saat melihat anaknya baru saja pulang. Romy masuk kedalam rumah. Ayahnya sedang duduk di ruang keluarga bersama isterinya.
“Kamu tahu ini sudah jam berapa, Ha!!” bentak sang Ayah berdiri sambil berkacak pinggang.
“Tahu, Pa. Sekarang jam sepuluh malam.” sahut Romy dengan tenang.
“Kamu sama temanmu pergi kemana? Kenapa baru pulang sekarang?”
“Teman-teman Romy tidak ikut, Pa. Dan Romy pergi kemana, Papa sama Mama tidak perlu tahu. Romy sudah dewasa. Jadi terserah mau pergi kemana!!”
“Romy, kamu jangan ngomong begitu. Mama sama Papa sayang sama kamu. Kalau kamu keluar, jangan lupa bilang sama Mama dan Papa.”
“Untuk apa Romy harus bilang, Ma. Mama sendiri yang bilang..Romy sudah dewasa. Ya sudah!” sahut Romy tenang sembari melangkah menuju kamarnya.
“ROMY!! Papa belum selesai bicara!!”
“Ya sudah, Papa ngomong aja sendiri!” sahut Romy sembari menutup pintu kamarnya dengan keras.
“Dasar anak tidak tahu diuntung!!” bentak Ayah Romy emosi.
“Sudah, Pa. Mungkin Romy masih marah karena Papa sudah menamparnya malam kemarin.”
“Salah dia sendiri. Jadi anak tidak tahu diuntung!”
“Pa, mungkin kita juga salah. Kita harusnya memberi perhatian yang lebih.”
“Ya, sudah. Mama perhatikan dia dan ajari supaya bersikap sopan dan tahu berterima kasih sama orangtua. Ajari dia supaya tidak banyak menuntut!”
“Jangan cuma Mama dong, Pa?! Papa juga harus ikut memberi perhatian sama dia. Dia kan anak kita satu-satunya.”
“Sudahlah, aku pusing!” Pak Ady meninggalkan Isterinya di ruangan itu dan melangkah menuju kamar. Nyonya Sisca melangkah menuju kamar Putera tunggalnya.
“Rom, buka pintunya!” ujarnya sembari mengetuk pintu dengan pelan. Tak terdengar sedikitpun suara dari dalam kamar anaknya.
“Romy!!” panggilnya lagi. Tetap tak terdengar suara dari dalam. Akhirnya wanita itu menyerah. Anak tunggalnya memang bersifat egois, gampang marah dan sensitif. Wanita itu melangkah menuju kamar tempat ia dan sang suami tidur.
* * * * *

Pagi ini Romy tampak beda dari biasanya. Hal itu tentu mengundang kecurigaan dari sahabat-sahabatnya. Romy yang biasanya lebih doyan ribut, tampak lebih banyak diam. Dan sesampainya didalam kelas, pun Romy tak juga membuka mulut.
“Rom, Tante bilang..tadi malam kamu keluar. Kamu pergi kemana?” tanya James tak tahan lagi melihat sikap Romy. Romy tampak kaget mendengar pertanyaan itu. Ia menatap wajah teman-temannya yang juga tengah menatapnya.
“Mm..aku..aku pergi ke..itu..ke Toko Buku.”
“Toko Buku???” ujar Ketiga temannya kaget.
“Ngapain kamu ke Toko Buku?” tanya James menyelidik.
“Makan, ya beli buku-lah.” sahut Romy berusaha menyembunyikan kegugupannya.
“Kenapa kamu nggak bilang sama kita-kita? Kita bertiga kan bisa nemanin kamu.”
“Yah, aku nggak mau kalian tambah capek cuma buat nemanin aku beli buku. Kalian kan capek habis main basket.”
“Kenapa sekarang kamu mikirin hal kayak gitu? Bukankah selama ini kita sering keluar walaupun baru habis main basket, atau apapun itu?!”
“Apa aku salah? Aku cuma nggak mau bikin kalian capek cuma buat nemanin aku.” sahut Romy dengan suara mulai meninggi.
“Boleh lihat buku yang kamu beli semalam?” tanya Ely.
“Aku nggak jadi beli.” sahut Romy.
“Kenapa?” tanya James menyelidik.
“Karena nggak ada yang bagus.” sahut Romy seenaknya.
“Nggak ada yang bagus atau karena kamu memang nggak doyan baca buku?” tanya James membuat Romy menatapnya.
“Sepertinya kalian menaruh curiga sama aku.” katanya.
“Yah, karena kamu kelihatan aneh. Kamu pergi tanpa bilang-bilang sama kita. Dan kamu pergi ke tempat yang paling kamu nggak suka. Toko buku. Selama ini yang lebih suka baca buku cuma Ely atau Alexa.”
“Heh, Jam’s! Setiap orang bisa berubah. Aku pergi ke toko buku, harusnya kamu bersyukur. Itu artinya aku mulai suka baca buku. Bukannya malah memojokkan aku dengan kecurigaanmu itu!” bentak Romy. Melihat Romy mulai emosi, James pun diam.
“Ya sudah, aku minta maaf.” gumamnya setelah beberapa detik terdiam. Romy hanya diam tak menanggapi permintaan maaf James.
Keempat anak ini terdiam sembari menoleh kearah pintu saat Sam dan Andry masuk ke dalam kelas. Kedua anak itu baru saja datang. Sam menoleh kearah empat anak ini bergantian dengan sorot mata Elangnya. Tatapannya berhenti begitu tepat di wajah Alexa. Alexa memalingkan wajahnya dari sorot mata itu.
“Hei..kenapa melihat kami seperti itu?” tanya Alexa tidak sanggup ditatap Sam. Sam tidak menanggapi ucapannya. Ia duduk dengan tenang disamping Andry.
“Sudah, Lex. Apa pedulimu, sich? Lebih baik kita ke Perustakaan. Masih banyak waktu sebelum bel. Kita nyari buku baru disana.” kata James.
“Iya, Lex. James benar. Kita nyari buku aja. Siapa tahu ada buku bagus.” tambah Romy yang setuju dengan ide James.
“Mm..kalian duluan ya?” ujar Alexa.
“Kita duluan atau memang kamu ngga mau ikut?” tanya Romy menyelidik.
“Aku nggak ikut.” sahut Alexa.
“Bagus, mungkin kamu lebih memilih buat ngurusin hal yang nggak penting itu. Silahkan, tapi aku yakin kamu tidak akan pernah berhasil.” kata Romy.
“Maksud kamu apa, Rom?” tanya Alexa tidak mengerti maksud Romy.
Sudahlah, kamu tahu apa yang aku maksud.”
“Aku nggak tahu, Rom. Aku nggak ikut karena aku malas. Aku nggak punya maksud seperti yang kamu tuduh.” kata Alexa.
“Terserah dech..kamu mau ngaku atau tidak. Tapi aku tahu kenapa kamu nggak mau ikut ke Perpustakaan.”
“Koq malah bertengkar sich? Rom, kenapa kamu curigaan mulu sama Alexa?” tanya James.
“Sudahlah, Jam’s. Tadi kamu juga curigaan mulu sama aku.” ketus Romy.
“Aku sudah minta maaf, Rom. Kenapa kamu jadi aneh begitu, sich?” tanya James kembali curiga melihat kelakuan Romy tampak tak biasa.
“Yang aneh itu bukan aku, tapi Alexa. Untuk apa sekarang dia ngotot buat ngurusin hal yang nggak penting itu?? Bukankah kemarin dia sudah bilang, kalau dia tidak akan ikut campur lagi sama masalah orang?”
“Dan Alexa tidak bilang kalau dia bakal ngurusin urusan orang, Rom. Dia nggak ikut ke perpustakaan karena malas. Apa kamu tidak dengar?” tanya James kesal.
“Jadi nggak ke Perpustakaan?” tanya Ely melihat sahabat-sahabatnya mulai memanas. James keluar dari kelas, diikuti Ely lalu Romy. Mereka hilang dibalik pintu.
“Jadi yang kamu maksud teman, begitu?? Kalau memang tidak cocok, untuk apa masih bertahan?” gumam Sam dari kursinya sembari menatap Alexa. Alexa hanya diam dan tak ingin menanggapi anak itu.
“Kadang, orang yang kita percaya pun bisa jadi musuh yang menikam diam-diam dari belakang.”
“Ketiga sahabat aku bukan orang seperti itu. Kamu salah kalau menilai semua orang itu sama.” balas Alexa.
“Apa aku pernah bilang kalau semua orang sama? Aku kan cuma bilang kalau seorang sahabat juga bisa menjadi musuh bebuyutan. Apa kamu tahu, mempertahankan persahabatan tidak semudah mencarinya. Sedikit berbuat salah bisa bberakibat buruk.”
“Heh, aku kan sudah bilang..mereka bukan orang seperti itu!! Jangan pernah menilai mereka seperti itu!! Aku lebih tahu siapa mereka.”
“Tapi tidak semuanya, kan? Kamu tidak tahu apa yang ada dalam pikiran mereka.”
“Aku tidak butuh komentar kamu. Aku percaya sama mereka!”
“Dan aku tidak meminta kamu untuk percaya sama ucapanku.” kata Sam seenaknya membuat Alexa makin keki.
“Kalau begitu, untuk apa kamu bicara? Kamu pikir aku bakal takut sama ocehanmu itu?!”
“Jadi kamu takut dengan semua ucapanku?” tanya Sam.
“Aku kan sudah bilang, aku tidak akan takut! Aku sudah mengenal mereka sejak kecil.”
“Orang tua yang sudah melahirkan anaknya saja, belum tentu tahu siapa anaknya, bagaimana pikirannya dan bagaimana kelakuannya.”
“Heh, sebenarnya apa yang kamu mau? Kamu mau merusak persahabatn aku sama mereka?”
“Kamu pikir aku seburuk itu?”
“Memang iya kan?!! Kamu cuma bisa bikin onar di sekolah ini. Semua tahu itu. Dan mungkin juga kamu seorang profokator yang ingin merusak persahabatan orang.”
“Terserah kamu sajalah! Aku juga nggak keberatan. Mau menuduh aku profokator, bajingan, brengsek atau apalah..terserah kamu saja. Memang begitulah aku adanya. Aku bukan kamu, yang berani menasehati orang sementara kamu tidak melakukannya.” sahut Sam tetap anteng-anteng saja. Alexa menatap anak yang duduk di meja sebelahnya dengan kesal.
“Kalau mau marah, marah saja. Nggak baik memendam amarah. Aku takut, amarah itu membuat kamu ingat terus sama aku.” ucat Sam membuat Alexa mencibir.
“Apa kamu bisa hidup tenang dengan membuat semua orang gondok? Kalau saja aku bukan Ketua kelas, aku akan menghajar kamu.” gumam Alexa menahan amarah.
“Tak harus menunggu sampai kamu dipecat dulu, kan?” ujar Sam seenaknya.
“Tapi aku bukan kamu.”
“Bilang saja kamu takut melakukannya.”
“Aku tidak takut.
“Kamu takut.”
“Okey, kamu sendiri yang meminta, jangan menyalahkan aku.” kata Alexa beranjak dari kursinya dan melangkah menuju meja Sam. “Sekarang kamu berdiri.” perintahnya sembari menatap Sam. Walau merasa aneh, tapi Sam akhirnya berdiri juga.
Tiba-tiba Alexa melayangkan kepalan tangannya di perut Sam. Ia yang tak menyangka serangan tiba-tiba itu, hanya bisa meringis kesakitan. Andry terkejut melihat kejadian itu. Ia takut Sam akan membalas pukulan Alexa. Tapi syukur, Sam tidak membalas pukulan itu. Namun hal itu juga yang justru membuatnya merasa aneh.
“Hebat! Ternyata kamu bisa juga menutupi rasa takutmu itu. Tidak heran kalau kamu dituduh suka nekat.” gumam Sam sembari mengusap-usap perutnya yang masih sakit.
Sekarang Alexa yang dibuat kaget olehnya. “Darimana dia tahu itu?” batinnya bingung. Ia menatap Andry. Cowok itu hanya menatapnya. “Untuk apa Andry cerita cerita semuanya sama Sam?” batinnya jadi kesal.
“Jangan pikir aku tahu itu dariAndry.” gumam Sam menghilangkan tuduhan Alexa. Tentu saja Alexa kaget mendengar ucapan itu. Sepertinya Sam bisa membaca pikirannya. Bukannya hanya hari ini tapi sejak mereka terlibat perdebatan.
“Sudahlah, aku malas berantem sama kamu.” gumam Alexa. Sam menyambutnya dengan mengangkat kedua bahunya. Alexa kembali duduk ke kursinya.
Bel berdentang pertanda jam pelajaran pertama akan di mulai. Semua anak SMU Mulia Bhakti masuk kedalam ruangan masing-masing. Seorang guru wanita masuk kedalam kelas 2-A.
“Selamat pagi, anak-anak!!” sapa wanita itu tersenyum ramah.
“Selamat pagi, Bu!” sahut anak-anak balas menyapa.
“Hari ini kita ada ujian.” Kata wanita itu disambut protes dari anak-anak.
“Koq dadakan sich, Bu?”
“Yah, karena Ibu ingin tahu siapa diantara kalian yang tidak belajar tadi malam. Soal yang Ibu berikan sengaja Ibu ambil dari pokok bahasan kita semalam. Jadi, Ibu yakin semuanya pasti bisa mengerjakannya.”
Suka tidak suka, tetap saja anak-anak tak bisa menolak ujian dadakan itu.
“Okey, kalau begitu ujian kita mulai. Alexa, kamu maju kedepan.” Perintah wanita itu. Alexa melangkah menuju meja gurunya.
“Tolong bagikan soal ini kepada teman-temanmu.” Katanya.
“Iya, Bu!” sahut Alexa sambil menerima kertas-kertas yang disodorkan gurunya.
Alexa mulai membagikan soal-soal itu kepada semua angotanya yang duduk di kursi. Begitu selesai, Alexa duduk kembali ke kursinya.
“Okey, kalian kerjakan mulai dari sekarang! Jangan sampai ada yang ketahuan menyontek. Ingat, siapa yang nilainya di bawah angka tujuh, akan Ibu beri hukuman.” ujar wanita dengan tegas. Anak-anak hanya bisa menerima pasrah bila nilainya di bawah angka tujuh.
Ruangan tampak sunyi karena semua anak sudah sibuk mengerjakan kertas soalnya masing-masing.
“Waktunya sudah habis!” ujar wanita itu setelah tiga puluh menit berlalu. “Alexa, tolong kumpulkan semua kertas hasil jawaban teman-temanmu!”
“Iya, Bu!” sahut Ketua kelas ini dengan tenang. Ia beranjak dari kursinya dan mulai mengumpulkan kertas jawaban teman-temannya satu demi satu.
“Okey, sekarang kita lanjutkan pokok bahasan kita yang semalam.” Jar Bu guru begitu Alexa meletakkan semu kertas itu diatas meja gurunya.
“Ada PR, Bu!” teriak James dari kursinya.
“Begitu, ya? Maaf, Ibu lupa. Ya sudah, Alexa, tolong kumpulkan semua buku PR kalian!”
“Iya, Bu!” sahut Alexa beranjak dari kursinya. Ia mengumpulkan buku teman-temannya. Yang terakhir giliran Andry dan Sam.
“Mana buku PRmu?” tanya Alexa melihat Sam belum menunjukkan buku PR-nya. Padahal Andry sudah memberikan bukunya. Sam mengangkat buku PR-nya yang bercover biru di tangan kiri. Alexa meraihbuku itu. Tapi ia hanya menangkap angin karena tiba-tiba Sam menghindar.
“Kamu jangan bikin masalah?” gumam Alexa bernada kesal. Sam bersikap acuh tak acuh.
“Heh, aku bilangin Guru, biar tahu rasa kamu!” ancam Alexa dengan suara berbisik.
“Silahkan! Siapa takut.” Sahut Sam anteng-anteng saja.
“Heh, kamu mau dapat nilai, nggak?!” bisik Alexa. Sam tidak peduli dengan ucapannya. Andry yang duduk disebelah Sam hanya tersenyum.
“Alexa, bukunya mana? Jangan lama-lama!”
“Iya, Bu!” sahut Alexa melihat gurunya yang juga menoleh kearahnya. “Kalau kamu tidak pengen dapat nilai, ya sudah.” gumam Alexa melangkah meninggalkan meja Sam dan Andry. Tiba-tiba Sam menarik lengan bajunya sehingga berhenti melangkah. Sam menaruh buku PR-nya di atas tumpukan buku di tangan Alexa.
“Dasar cowok aneh!” umpat Alexa melangkah menuju meja gurunya dan menaruh buku-buku itu di atas meja gurunya. Ia lalu duduk kembali di kursi disamping James.
Beberapa jam kemudian terdengar bel berbunyi pertanda jam istirahat sudah tiba. Anak-anak menyusun buku-buklunya yang berserakan diatas meja.
“Besok pagi jam pertama Ibu yang masuk. Hasil jawabannya akan Ibu bagi besok. Ingat, bagi yang nilainya di bawah tujuh, akan Ibu beri hukuman.”
“Iya, Bu!”
“Sekarang kalian boleh istirahat. Alexa, tolong bantu Ibu membawa buku-buku ini ke kantor.” pinta wanita itu.
“Iya, bu!” sahut Ketua kelas.
“Lex, kita tunggu kamu di kantin, ya?” ujar James sebelum Alexa keluardari ruangan itu. Alexa hanya tersenyum menyambut ucapan James.
Usai mengantarkan buku itu ke kantor gurunya, Alexa menyusuri koridor sekolah hendak menuju kantin.
“Hai, Lex. sapa seorang cowok tiba-tiba. Alexa terkejut melihat segerombolan cowok yang sudah menghadang langkahnya.
“Apa kabar, Lex?” tanya cowok yang berdiri paling depan.
“Ada apa?” tanya Alexa dengan suara yang berat.
“Koq, malah balik nanya? Kabar kamu gimana?” tanya cowok iu sembari melemparkan senyuman.
“Aku baik-baik saja.” sahut Alexa tenang. “Ada apa?”
“Kamu nggak pengen tahu kabar aku?” cowok itu malah balik bertanya.
“Kabar kamu pasti baik-baik saja.” gumam Alexa.
“Tapi kamu belum tahu bagaimana keadaan aku sebenarnya.” ujar cowok itu menanggapinya.
“Maaf, Gio. Aku ada urusan penting. Aku pergi dulu.” Alexa segera meninggalkan gerombolan cowok itu.
“Lex, aku pengen bicara sama kamu!” panggil Gio tapi Alexa terus berlalu. Gio yang tak lain adalah kakak kelas Alexa yang juga mantan pacarnya tampak kecewa dengan kepergian Alexa.
“Tumben dia menghampiri kamu.” gumam James begitu Alexa menceritakan kejadian itu kepada teman-temannya. Keempat anak ini sedang duduk santai mengelilingi meja yang ada di sudut kantin. Diatas meja tampak empat minuman botol dan empat mangkok berisi mie kesukaan mereka.
“Aku juga heran.” gumam Alexa.
“Pasti ada maunya.” ujar Ely
“Maksud kamu?” tanya Alexa bingung.
“Mungkin saja dia pengen balik lagi sama kamu.” ujar Ely. Alexa dia.
“Masuk akal juga tuh.” gumam Romy setuju dengan tebakan Ely.
“Gimana, Lex?” tanya James membuat Alexa bingung.
“Apanya gimana?” Alexa balik bertanya.
“Yah, kalau misalkan Gio minta balik lagi, kamu masih mau nerima nggak?” tanya James. Alexa tidak menanggapinya.
“Ya sudah, kalau masih bingung…nggak usah di jawab.” ujar James.
“Kalau sampai dia melakukannya lagi, aku akan menghajarnya sampai babak belur. Dan aku tidak peduli walaupun kamu tidak setuju.” kata Romy.
“Aku setuju, Rom.” ujar Ely mendukung.
“Jadi, sekarang kamu mau ikut-ikutan kayak Sam.” gumam James yang tidak setuju dengan ide Romy.
“Enak saja! Kamu jangan samain aku kayak dia. Dia itu orang yang nggak punya hati.” kata Romy protes.
“Dia punya hati, Rom.” gumam Alexa membuat ketiga temannya serentak menoleh kearahnya.
“Setiap manusia pasti punya hati.” ujar Alexa lagi.
“Sudahlah, Lex. Mau sampai kapan kamu terus-terusan belain dia? Kalau dia memang punya hati, mana mungkin dia tega menghajar anak-anak di sekolah ini?” ujar Romy.
“Tapi aku yakin dia pasti punya hati.”
“Terserah kamu sajalah. Terus saja belain anak itu!” ujar Romy kesal. Alexa tak menanggapi ucapan Romy.
“Aku heran sama kamu. Apa dia memelet kamu sampai segitunya belain dia?” tanya Romy membuat Alexa kaget.
“Rom, dia sama sekali tidak memelet aku. Aku berpikir secara rasional. Setiap manusia pasti punya hati.”
“Kalau kamu berpikir rasional, kamu pasti bisa membedakan mana manusia yang punya hati atau nggak. Kalau dia punya hati, mana mungkin tiap hari bikin masalah dan bikin keributan di sekolah ini!!” bentak Romy kesal. Melihat amarh Romy mulai naik, Alexa pun hanya diam. Ia tak ingin terjadi keributan lagi diantara mereka. Suasanapun tiba-tiba jadi hening.
“Eh, entar sore..kita keluar ya?” ujar James memecah keheningan mereka.
“Ide bagus tuh.” sambut Ely cepat.
“Gimana, Lex?” tanya James melihat Alexa diam saja.
“Terserah kalian saja.”
“Jangan begitu dong jawabnya. Kamu mau nggak?” tanya James.
“Iya!” sahut Alexa.
“Nah, gitu dong. Kamu juga ya, Rom?”
“Hm..aku minta maaf ya? Aku nggak bisa.”
“Loh, koq gitu?” tanya James kaget.
“Mm..iya, soalnya aku sudah ada rencana keluar sama Mama.”
“Yang benar, Rom?” tanya Alexa seolah tak percaya. “Bukannya Tante ngantor?”
“Iya, tapi hari ini Papa sendirian yang ngurusin kantor. Kata Mama, aku bakal diajak jalan-jalan berdua saja.”
“Jadi kita nggak boleh ikut, nich?” goda James tersenyum.
“Ya nggak bisa, dong.”
“Ya sudah…nggak apa-apa. Yang penting kamu bisa bersenang-senang sama Tante, iya kan?” ujar James. Romy tersenyum menambutnya.
“Boleh tahu, kalian mau pergi kemana?” tanya Alexa.
“Aku juga nggak tahu, soalnya Mama mau bikin kejutan sama aku. Yah, kalian kan tahu sendiri, Mama udah lama nggak pernah ngajak aku jalan-jalan. Besok dech aku cerita sama kalian.”
“Okey dech, besok kita tunggu. Semoga acara jalan-jalan kamu sama Tante lancar, ya?” ujar James. Kembali Romy menyambutnya dengan hanya tersenyum.
“Kalian juga. Hm, kalian pergi kemana? Ke Mall atau Bioskop?” tanya Romy balik.
“Ke Mall aja, ya?” tanya James menatap Ely dan Alexa. Kedua anak itu setuju saja. Romy tersenyum melihat ketiga temannya
“Maafkan aku, sobat. Aku tidak pergi sama Mama. Aku hanya tidak ingin kalian jadi sedih gara-gara aku. Mana mungkin Mama punya waktu untuk nemanin aku? Mama sama Papa cuma mikirin pekerjaannya. Selama ini kalian sudah banyak menghibur disaat aku sedih. Dan aku tidak mau membuat kalian sedih lagi hanya karena mendengar semua yang kurasakan di rumah. Aku sudah banyak berbohong karena sebenarnya aku tidak mendapatkan kasih sayang seperti yang kalian dapatkan dari O-om dan Tante. Dan aku sudah tidak layak lagi menjadi sahabat kalian. Aku sudah ingkar sama janji yang kita buat dulu. sobat, maafkan aku karena mulai hari ini aku akan menghindari kalian. Aku tidak layak jadi sahabat yang baik buat kalian.” batin Romy sembari menatap ketiga sahabatnya bergantian. Kedua bola matanya tampak berkaca-kaca. Tapi ia berusaha menahannya agar airmata tidak sampai jatuh dan membuat James, Ely dan Alexa curiga lalu memojokkannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang mencurigai.
* * * * *

Bel berdentang. Itu tandanya jam pelajaran pertama akan di mulai. Alexa, Romy, James dan Ely sudah duduk di kursinya masing-masing. Begitu juga anak-anak yang lain yang ada di ruangan itu.
Seorang wanita masuk kedalam ruangan itu dengan membawa tumpukan buku di tangannya. Ia berdiri di samping mejanya sembari menatap wajah-wajah anak didiknya.
“Selamat pagi semua!”
“Selamat pagi, Bu!” anak-anak balas menyapa.
“Seperti pesan Ibu semalam, hari ini akan Ibu bagikan hasil ujian kalian. Dan bagi siapa yang nilainya di bawah angka tujuh, siap-siap saja menerima hukuman dari Ibu.” ujar wanita itu. Ia mengambil kertas-kertas hasil ujian anak-anak didiknya.
“Alexa, kamu maju kedepan.” perintah wanita itu. Alexa maju kedepan menuju gurunya. “Tolong bagikan kertas-kertas ini sesuai nama yang tercantum disana.”
“Iya, Bu!” Alexa menerima kertas itu dan mulai membagikan kertas-kertas itu. Ternyata kertas paling atas adalah milik Sam. Terkejut juga ia melihat hasil ujian Sam.
“Aku pikir, cowok seperti kamu nggak bakal bisa dapat nilai sebagus ini.” katanya berbisik sembari menaruh hasil ujian milik Sam diatas mejanya. Sam tersenyum sinis menyambut ucapan itu. Ia mengambil kertas yang baru saja diletakkan ketua kelasnya. Dipandanginya nilai yang tercantum didalam kertas itu. Alexa kembali membagikan kertas milik teman-temannya yang lain.
“Gila! Aku dapat nilai Enam??! Mampus! Aku bakal kena hukum sama guru. Sam bakal ngetawain aku lagi?! Padahal aku baru saja meledek dia. Aduuhh..malu banget.” batin Alexa begitu melihat hasil ujiannya.
“Okey, yang merasa nilainya dibawah angka tujuh, harap maju ke depan.” perintah guru sembari melirik Alexa. Alexa yang baru saja duduk di kursinya tampak kaget dan sesaat kemudian menundukkan wajahnya yang memerah.
“Alexa Christiyanti!!” panggil wanita itu seketika membuat jantung Alexa berdebar. Bagaimana tidak, ia baru saja meledek salah satu temannya yang mendapat nilai bagus. Sedangkan dia mendapat nilai paling rendah.
James, Ely dan Romy menatap Alexa dengan wajah kaget tak percaya.
“Ii..iya, Bu!” sahut Alexa gagap.
“Apa kamu tidak merasa mendapat nilai enam?” tanya wanita itu.
“Ii..iya, Bu!” sahut Alexa.
James merampas kertas hasil ujian Alexa dari tangannya. Ia seolah masih tak percaya kalau Alexa mendapat nilai paling rendah hari ini. Alexa hanya menatap ketiga temannya tanpa sedikitpun mengeluarkan suara.
“Ayoo..tunggu apalagi!!” bentak wanita itu dari depan. Alexa melangkah maju kedepan kelas.
“Coba kalian lihat, Sam yang masih belum lama di sekolah ini bisa mendapat nilai paling tinggi di kelas ini. Sedangkan James, Romy dan Ely yang biasanya mendapat nilai paling tinggi, sekarang ada di bawah Sam. Dan yang lebih membuat Ibu heran, Alexa, Ketua di kelas ini malah mendapat nilai paling buruk diantara yang lainnya. Memalukan sekali!!” kata wanita itu membuat wajah Alexa semakin tertunduk dalam.
“Alexa, angkat wajahmu dan lihat kearah teman-temanmu!” perintah wanita itu. “Hayoo!” bentaknya karena Alexa tidak menurut. Dengan berat, Alexa mengangkat wajahnya yang memerah.
“Coba jelaskan kepada mereka..kenapa hari ini nilai kamu bisa seburuk ini?!” perintah wanita itu sembari melotot anak didiknya yang berdiri disampingnya.
“Ayo, jelaskan!” perintah wanita itu karena Alexa diam saja. “Apa karena kamu bosan diajarin sama Ibu?”
“Bu..bukan, Bu!” sahut Alexa cepat.
“Lalau apa alasanmu?” tanya wanita itu.
“Mm..sa..saya ttidak belajar, Bu.” sahut Alexa disambut tawa sebagian anak-anak. Alexa melirik Sam. Ternyata cowok itu sedang sibuk membolak-balik buku di tangannya. Sepertinya dia tidak mau tahu dengan ledekan yang di lontarkan Alexa waktu membagikan hasil ujiannya. Buktinya ia tidak ikut mentertawainya lalu meledeknya.
“Syukurlah!” batin Alexa.
“Bagus! Sangat bagus sekali. Sebagai Ketua kelas yang jadi panutan, kamu telah menunjukkan contoh yang baik. Apa perlu Ibu memecat kamu jadi Ketua kelas?” kata Ibu guru. Alexa hanya diam.
“Sekarang sebagai hukuman, kamu kerjakan semua soal ujian yang semalam di papan tulis. Setelah selesai, kamu jelaskan hasil jawabanmu kepada teman-temanmu.”
“Iya, Bu!”
Alexa mulai mengerjakan soal ujian itu di papan tulis. Beberepa saat kemudian, ia selesai mengerjakan dan menjelaskan hasil jawabannya kepada anggotanya.
“Nah, buktinya kamu bisa mengerjakan semuanya dengan benar. Ibu suka itu. Tapi lain kali kalau terjadi lagi hal seperti ini, Ibu benar-benar akan memecatmu. Paham!”
“Paham, Bu!”
“Okey, sekarang kamu kembali ke kursi dan kita lanjutkan pelajaran kita semalam.”
“Iya, Bu!” sahut anak-anak dari kursinya masing-masing. Alexa duduk di kursinya. Proses belajar-mengajar pun di mulai.

“Aku nggak habis pikir, Lex. Emang sewaktu ujian kamu ngapain aja, sich? Sampai-sampai nilai kamu enam gitu? Baru kali ini kamu dapat nilai enam Matematika.” kata James saat empat anak ini melangkah menuju koridor sekolah. Jam istirahat sedang berlangsung. Alexa tidak menjawab pertanyaan dari James.
“Baru saja Sam mempermalukan kita.” kata Romy.
“Kenapa malah nyalahin dia, Rom?!” tanya Alexa kaget mendengar ucapan Romy.
“Ya iyalah, gara-gara dia kita jadi malu sama anak-anak, sama guru. Baru kali ini nilai kita ada yang menandingi.
“Tapi jangan salahkan Sam, dong. Itu salah kita sendiri. Kita tidak bisa mendapat nilai yang lebih bagus.”
“Bisa tidak, kamu jangan bela-belain dia terus?!” ujar Romy tidak suka mendengar ucapan Alexa.
“Alexa benar, Rom. Nilai kita nggak bagus sama sekali nggak ada hubungannya sama Sam. Kita jangan menyalahkan dia karena ini memang salah kita sendiri.
“Kamu lagi!! Kenapa sich aku tidak pernahdi bela?!” bentak Romy membuat ketiga temannya kaget.
“Karena pemikiran kamu salah, Rom. Kamu boleh saja benci sama Sam tapi bukan berarti seenaknya nyalahin dia begitu?!” kata Alexa.
“Yah, dia menghajar anak-anak juga..kamu bakal belain dia. Kamu memang sudah di pelet sama dia.” bentak Romy kesal.
“Rom, aku kan sudah bilang dia nggak memelet aku. Harusnya kamu juga berpikir secara rasional. Apa pantas kita menyalahkan Sam hanya karena nilainya lebih tinggi dari kita? Nggak kan?!”
“Sudah, sudah! Apa kalian tidak bosan jadi tontonan anak-anak hanya karena memperdebatkan si Sam? Malu kan?” kata James menengahi.
“Ini semua gara-gara si Sam. Coba kalau dia tidak ada di sekolah ini..semua itu tidak akan terjadi.” bentak Romy penuh amarah.
“Rom, ini semua tidak ada hubungannya sama dia. Jadi jangan bawa-bawa dia dalam masalah kita.” kata Alexa.
“Terserah kamu mau ngomong apa!” balas Romy tak perduli.
Tiba-tiba Sam ada di hadapan mereka. Ia berdiri sambil berkacak pinggang. Tatapannya tajam kearah empat sahabat ini.
“Mau apalagi kamu?” tanya Romy tak bisa menahan amarah.
Sam menyambutnya dengan melempar senyuman sinis seolah meledeknya.
“Aku mau bicara sama dia.” gumam Sam sambil menunjuk Alexa. Tentu saja Alexa kaget dibuatnya. Ia teringat kejadian tadi pagi saat meledek Sam.
“Heh, kamu bisa berhenti tidak mengganggu dia?!!” bentak Romy.
“Aku mengganggu dia karena dia sendiri yang lebih dulu mencari masalah sama aku. Kalau nggak percaya, tanyakan saja dia.” gumam Sam menatap Alexa dengan sorot mata tajam. Alexa diam saja.
“Apapun alasanmu, kamu tidak boleh mengganggu dia. Kalau kamu masih mengganggu dia, aku akan menghajarmu!!” bentak Romy.
“Silahkan saja.” sahut Sam tenang saja. Melihat sikap Sam yang tenang saja, Romy merasa diledek. Ia melayangkan kepalan tangannya untuk menghajar Sam. Tapi dengan cepat Alexa menahan tangannya.
“Hentikan, Rom!!” bentak Alexa.
“Kenapa? Apa aku salah membela kamu!!” bentak Romy marah.
“Rom, bukan begitu caranya menyelesaikan masalah. Aku tidak mau kita dipanggil ke kantor BP gara-gara berantem.”
“Aku benar-benar nggak ngerti jalan pikiran kamu, Lex?!!” bentak Romy kesal sambil berlalu dari hadapan mereka.
“Rom, kamu mau kemana?” tanya Alexa kaget.
“Apa pedulimu!!” sahut Romy tak perduli. “Urus saja urusanmu itu!” kata Romy sambil berlalu.
“Lex, kamu harus kejar Romy. Dia benar-benar marah sama kamu.” kata James. Alexa hendak pergi, namun Sam cepat-cepat menghalangi langkahnya dengan berdiri dihadapan Alexa.
“Aku mau bicara sama kamu.” gumam Sam.
“Apa kamu belum puas membuat persahabatan kami berantakan seperti ini?!” bentak Alexa jadi emosi juga.
“Jaga ucapanmu!” sahut Sam pelan namun penuh ancaman.
“Lex, aku sama Ely nyusul Romy duluan, ya? Nanti kalau masalah kamu sudah selesai sama dia, kamu temui kita.” kata James menarik tangan Ely. Mereka berlalu dari hadapan Sam dan Alexa.
“Sekarang kamu mau apa?” tanya Alexa menahan amarah. Tampak kedua matanya mulai basah karena menahan airmata.
“Kalau mau nangis..silahkan saja. Aku tidak akan melarangmu.” kata Sam pelan.
“Sebenarnya kamu mau apa?!” bentak Alexa akhirnya tak bisa menahan airmatanya. Akhirnya ia menangis juga ia didepan cowok itu. Sam hanya memandanginya tanpa sedikitpun mengeluarkan kata.
“Apa kamu tidak bisa membiarkan aku dan sahabat-sahabatku hidup dengan tenang?! Apa kamu tidak bisa melihat orang lain bahagia?! Apa kamu belum puas melihat bertengkar tiap hari?! Apalagi yang kamu inginkan dari kami?!” bentak Alexa dengan pertanyaan yang bertubi-tubi. Sam tidak angkat suara.
“Kenapa diam saja?!! Ayo jawab!” bentak Alexa mendorong tubuh Sam dengan keras hingga cowok ini menubruk dinding yang ada dibelakangnya.
“Karena aku tidak mengerti dengan semua pertanyaanmu.” sahut Sam dengan tenang.
“Kamu tidak usah berpura-pura didepanku!!”
“Aku tidak pura-pura. Aku tidak tahu apa yang kalian perdebatkan. Aku datang kesini dan menemuimu hanya untuk minta penjelasan atas apa yang kamu ucapkan tadi pagi.” ujar Sam. “Aku tidak peduli masalah apa yang kalian perdebatkan, karena aku tidak pernah ikut campur sama masalah kalian.” kata Sam. Alexa menghapus airmata yang masih membasahi wajahnya.
“Sekarang kamu mau apa?”
“Aku kan sudah bilang, aku butuh penjelasan atas ucapan kamu tadi pagi di kelas.” ujar Sam mengulangi pertanyaannya.
“Aku nggak punya maksud apa-apa.” jawab Alexa diantara isakannya.
“Apa kamu sudah terbiasa untuk bersikap tidak jujur? Apa jangan-jangan kamu sering membohongi sahabat-sahabatmu ?” tanya Sam membuat Alexa diam.
“Kamu jangan bawa-bawa mereka.”
“Kenapa? Apa ucapanku menyinggung perasaanmu?”
“Aku sudah bilang, kamu jangan bawa-bawa mereka.”
“Okey, kalau begitu aku harap kamu bisa menjawab pertanyaan aku barusan.” ucap Sam membuat Alexa benar-benar mati kutu. Cowok aneh itu mampu membuatnya tak berkutik. Tapi ia tetap diam
“Cowok seperti aku tidak pantas mendapat nilai yang lebih tinggi, iya kan? Yah, maklum..aku bukan anak orang kaya dan tidak bisa berpenampilan bagus seperti kalian. Aku cuma anak jalanan yang tidak pantas mendapat nilai lebih. Dan aku tidak pantas mendapat pujian. Orang seperti aku lebih pantas mendapat hinaan dari orang-orang seperti kalian. Itu kan jawaban yang mau kamu katakan? Baguslah, dengan senang hati aku menghargainya.” kata Sam berlalu dari hadapan Alexa.
“Heh, aku tidak bicara seperti itu?” sanggah Alexa sambil mengejar langkah Sam. Kali ini ia yang menghadang langkah Sam. “Aku tidak bicara demikian. Itu kan menurut pikiranmu saja.” sanggah Alexa menatap wajah cowok didepannya.
“Kenapa?? Kamu mau bilang kalau omonganmu tadi pagi tidak ada maksud apa-apa?”
“Bukan begitu. Iya, aku ngaku.. aku cuma tidak menyangka aja, kalau kamu bisa menjawab soal-soal itu dengan baik? Aku pikir kamu cuma bisa memukul orang dan membuat keributan. “ gumam Alexa dengan suara bergetar. Sepertinya ia sedang menyembunyikan rasa takutnya. Ia tidak ingin cowok itu sampai tahu.
“Nggak ada bedanya kan sama apa yang baru saja aku ucapkan?”
“Beda, Sam. Aku tidak mengatakan kalau kamu anak jalanan yang tidak pantas mendapat nilai yang bagus.”
“Aku tahu. Kamu memang tidak mengatakan aku anak jalanan yang tidak pantas mendapat nilai bagus. Tapi intinya sama saja, kamu menilai orang dari penampilan luar.” kata Sam membuat Alexa tak lagi bicara. “Okey, aku bisa memakluminya. Karena kamu memang tidak salah. Aku memang anak yang kurang ajar yang tidak seharuanya mendapat nilai yang bagus. Tapi ingat, jangan melakukan hal yang sama pada orang lain. Kamu jangan menilai orang lain buruk hanya dengan melihat penampilan luar. Kamu tahu kenapa? Karena kamu akan kelihatan jauh lebih buruk daripada orang yang kamu nilai.”
Sam berlalu dari hadapan Alexa. Ia benar-benar tidak habis pikir, siapa cowok itu sebenarnya?
“Aku yang munafik atau dia yang munafik? Kalau dia jahat, kenapa harus memberikan aku nasehat seperti itu? Kalau dia bukan anak yang jahat, kenapa ia tega melukai anak-anak yang ada di sekolah ini? Sebenarnya apa yang dia inginkan? Apa dia setan bertopeng malaikat atau justru malaikat bertopeng setan? Ha-ah..dasar cowok aneh!” batin Alexa bingung sendiri. Tapi yang jelas Sam hanyalah manusia biasa yang tak seorang pun bisa tahu apa isi hatinya.

“Kamu kenapa Alexa? Pulang sekolah tampangnya koq uring-uringan gitu? Kamu ada masalah apalagi?” tanya Mama Marina begitu puteri tunggalnya tiba di rumah dengan tampangnya yang kusut. Alexa duduk disebelah Mamanya yang sedang duduk di ruang depan menonton TV.
“Ma, Lexa bertengkar sama Romy.” katanya pelan.
“Kamu tuh, ya? Dari dulu selalu saja bertengkarnya sama Romy. Apa kalian memang tidak bisa akur?” tanya wanita itu dengan lembut.
“Habis Romy selalu curiga sama Alexa, Ma. Padahal Alexa tidak bermaksud membuatnya marah.”
“Itu kan bukan hal yang aneh lagi bagi kalian. Romy itu memang gampang marah. Jadi, kamu harusnya pintar-pintar menghadapinya. Jangan sampai ia tersinggung dan marah sama kamu.”
“Ma, belakangan ini Romy kelihatan aneh. Dia suka marah dan tadi di sekolah, dia hampir memukul anak baru itu.”
“Anak baru yang kamu ceritakan dulu?”
“Iya, Ma.”
“Dia yang nuduh kamu munafik kan?”
“Iya, Ma.”
“Hm..mungkin Romy tidak suka kalau dia menghina kamu. Itu sebabnya dia marah.”
“Tapi, Romy hendak memukul Sam bukan karena Sam menghina Lexa, Ma.”
“Terus kenapa?”
“Romy tidak terima kalau nilai kita berempat lebih rendah dari nilai Sam. Romy mau memukul Sam, tapi Alexa tidak membiarkannya. Dan Romy malah marah karena aku tidak membiarkan dia memukul Sam. Dan Romy tidak mau bicara sama Alexa. Apalagi buat maafin Lexa. Bagaimana ini, Ma?” tanya Alexa cemas dengan airmata mulai membasahi wajahnya.
“Ya sudah, kamu sudah mengenal Romy sejak kecil dan kamu pasti tahu bagaimana cara meenghadapinya. Jangan pernah membuatnya tersinggung. Dan hari ini dia tidak bicara sama kamu pasti karena dia masih emosi. Mama yakin, besok hatinya pasti sudah tenang dan amarahnya hilang. Kamu harus minta maaf sama dia.”
“Mama yakn, besok Romy sudah mau bicara sama Lexa?”
“Iya. Mama yakin. Romy itu sayang sama kamu. Dia pasti bisa maafin kamu.”
“Moga saja, Ma. Lexa juga sayang sama dia, James dan Ely. Aku tidak mau gara-gara aku, persahabatan kami jadi berantakan.”
“Iya, Mama juga selalu berdoa. Persahabatan kalian tetap baik seperti saudara.” ujar wanita itu. Alexa mengusap airmatanya.
“Sekarang kamu mandi, habis itu makan.”
“Iya, Ma. Kamu pergi sana.”
“Iya, Ma.” sahut Alexa beranjak dari sebelah Mama Marina. Ia pergi menuju kamarnya.
“Jangan lama-lama ya?”
“Iya, Ma” sahut Alexa sebelum menutup kamarnya.
* * * * *

Masih sama seperti hari sebelumnya, Alexa berangkat ke sekolah bersama-sama dengan ketiga sahabatnya. Namun ada yang berbeda. Tak ada canda dan tawa terdengar ditengah-tengah mereka. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
“Aduuhh, gimana ya? Apa Romy masih marah sama aku?” batin Alexa menoleh Romy yang berjalan disamping Ely. Romy tak sedikitpun menoleh padanya. James dan Ely juga sepertinya lebih memilih diam saja. Mereka yakin Alexa dan Romy bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
“Rom..” gumam Alexa memecah keheningan mereka. James dan Ely tersenyum mendengar itu. “Aku minta maaf sama kamu. Aku mengaku salah sama kamu.” ucapnya memohon. Romy menoleh kearahnya sesaat lalu membuang pandangannya kearah jalan raya yang dipadati dengan kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang.
“Kalau kamu tidak bisa maafin, aku nggak memaksa, Rom. Tapi kamu jangan diam begitu.” gumam Alexa.
“Sebenarnya aku bisa maafin kamu, Lex.”
“Benar, Rom??” tanya Alexa kaget dan bahagia. Romy menganggukkan kepala.
“Tapi ada syaratnya.” gumam Romy membuat Alexa terkejut. Begitu juga Ely dan James.
“Syarat??” gumamnya.
“Yah, Apapun alasannya, kamu jangan pernah dekat-dekat sama Sam. Kita berantem gara-gara dia, jadi mulai sekarang kamu harus menjauh dari dia.”
“Tapi bagaimana mungkin itu terjadi, Rom? Aku ketua kelas. Kamu sendiri pernah menyuruh aku untuk ikut campur sama maslah dia karena aku Ketua kelas?”
“Anggap saja itu sebagai kesalahan yang tidak di sengaja.” sahut Romy tak acuh. Alexa diam.
“Kalau kamu tidak mau ya sudah. Aku juga tidak memaksa kamu untuk menerima syarat itu.” kata Romy.
Alexa menatap James dan Ely bergantian. Kedua cowok itu hanya angkat bahu di tatap seperti itu. Sepertinya Alexa belum bisa menerima syarat dari Romy.
“Kenapa?” Apa syarat itu terlalu berat?” tanya Romy melihat Alexa diam saja.
“Okey aku terima syarat dari kamu. Tapi kamu juga janji satu hal sama aku. Kamu jangan curigaan sama aku.”
“Aku janji.” sahut Romy tersenyum. Kedua anak ini saling bersalaman.
James dan Ely bahagia melihat mereka akur lagi, walau mereka tahu keakraban itu kin bersyarat.
Pukul 07:30 WIB, mereka tiba di sekolah. Keempat sahabat ini langsung menuju ruang kelas 2-A. Ternyata Sam dan Andry sudah ada di ruangan itu. Andry sedang membaca buku, sedangkan Sam diam saja tanpa melakukan sesuatu. Sepertinya ia sedang melamun. James, Romy, Ely dan Alexa duduk di kursinya masing-masing. Alexa tampak diam saja di kursinya. Tidak seperti Romy yang sudah mulai kembali dengan suaranya yang ribut.
“Lex, mikirin apa, sich?” tanya James yang mengamati tingkah gadis ini.
“Nggak..aku nggak mikirin apa-apa.” sahut Alexa cepat. “Kenapa ya, aku merasa ada yang aneh? Kenapa aku jadi sedih? Apa susahnya menerima syarat yang begitu mudah? Mungkin aku akan lebih baik dengan menerima syarat itu. Aku tidak perlu lagi buang-buang tenaga untuk berantem sama Sam. Dan yang lebih penting aku bisa baik lagi sama Romy. Bukankah sahabat-sahabat aku jauh lebih berharga dari siapapun di sekolah ini?!” batin Alexa berusaha menghibur diri.
Hingga bel pulang berdentang, Sam sama sekali tidak mengganggu Alexa seperti hari-hari sebelumnya. Hal itu tentu saja membuat Alexa merasa heran.
“Tumben hari ini dia tidak usil?” batinnya melihat Sam diam saja di kursinya disebelah Andry. “Baguslah, dengan begitu aku tidak perlu lagi menghindar dan takut Romy jadi marah. Tapi koq tumben?! Apa jangan-jangan dia bisa tahu soal persyaratan yang diajukan Romy? Ah, nggak mungkin banget. Dia kan bukan peramal? Tapi selama ini, dia selalu saja bisa menebak pikiran aku. Apa jangan-jangan dia bisa membaca pikiranku? Ah, mustahil.” Walau banyak pertanyaan yang coba mengusik, Alexa berusaha untuk tak acuh.
James, Alexa, Romy dan Ely keluar dari ruangan itu untuk pulang.
“Oh iya, entar sore kita ada Pelajaran Ekstrakurikuler. Jangan lupa.” kata James mengingatkan.
“Iya.” sahut yang lain bersamaan.
“Oh iya, Lex. Aku senang banget. Hari ini kamu bisa menepati janji kamu.” kata Romy saat menyusuri lapangan. Alexa tidak menanggapinya.
“Aneh ya..tumben hari ini dia nggak gangguin kamu.” ujar James ternyata ikut merasakan seperti yang dirasakan Alexa. Kembali Alexa hanya menoleh cowok-cowok disampingnya tanpa menanggapi ucapan itu.
“Itu kan kabar bagus.” gumam Ely.
“Yang bilang bukan kabar bagus siapa?” kata Romy menanggapi ucapan Ely.

“Tumben hari ini kamu nggak gangguin Alexa?” tanya Andry. Kedua anak ini sudah berada di tempat parkir yang ada dipinggir lapangan sekolah.
“Kamu mau aku mengganggunya?” Sam balik bertanya.
“Bukan begitu, Sam. Aku cuma merasa heran aja.”
“Heran?? Untuk apa? Aku mengganggu dia karena dia sendiri yang cari gara-gara. Dan hari ini dia mencari gara-gara.”
“Hmm..sebenarnya ada apa, Sam? Belakangan ini kamu kelihatan sering melamun. Kamu mikirin apa, sich?” tanya Andry.
“Aku kan sudah bilang, apapun yang aku lakukan kamu tidak usah ikut campur.”
“Tapi..”
“Sudahlah, aku tidak butuh kata tapi. Aku butuh kamu diam.”
“Ya sudah!” gumam Andry tidak ingin membuat Sam jadi marah.
“Hm.. apa kita belum mau pulang, Sam?” tanya Andry melihat Sam masih diam saja diatas motornya.
“Ya sudah, sekarang kamu naik.” gumam Sam sembari mengenakan Helm. Andry mengenakan Helm yang disodorkan Sam.
Begitu Andry dudk dibelakang Sam, motor itupun melaju dengan tenang keluar dari lapangan sekolah. Motor itu kini menyusuri jalan raya yang tampak padat.
“Lihat Sam, Alexa sama teman-temannya.” kata Andry begitu melihat Alexa, Ely, Romy dan James sedang menyusuri pinggiran jalan raya. Sam melihat kearah yang ditunjuk Andry. Katiga cowok itu tampak sedang tertawa bahagia, tapi Alexa tampak diam saja.
“Apa maksud kamu menyuruh aku untuk melihat mereka? Aku tidak minta kamu menunjukkannya dan aku tidak mau tahu mereka ada dimana?!” gumam Sam.
“Yah, aku cuma ngasih tahu aja. Dan aku tidak punya maksud apa-apa.”
“Dan aku tidak mau tahu.”
“Ya sudah, kalau begitu aku minta maaf.” gumam Andry. Sam diam saja. Motor itu melaju dengan tenang diantara kendaraan-kendaraan yang searah dengannya.
Beberapa menit kemudian, motor itu berhenti didepan sebuah rumah. Tampak sederhana saja. Tapi rumah itu begitu rapi dan dihiasi beragam macam bunga. Dan sebatang pohon mangga tampak tumbuh hijau didepan ruamh itu. Noe memasukkan motornya ke garasi.
“Aku heran, apa sebenarnya yang mau kamu tahu dari aku?” tanya Sam.
“Sam, kamu sendiri yang minta aku ikut sama kamu. Masa aku tidak boleh tahu sedikitpun tentang keluargamu?” gumam Andry mengikuti langkah Sam masuk kedalam rumah yang asri itu.
“Apa untungnya sama kamu?”
“Paling tidak aku tahu siapa kamu sebenarnya.“ sahut Andry. Sam membunyikan bel rumah. Beberapa detik kemudian, pintu dibuka seorang wanita yang masih tampak muda dan cantik.
“Sudah pulang, Sam?” tanya wanita itu melemparkan senyuman manis dan lembut. Sam tidak menanggapinya, ia malah masuk kedalam rumah tanpa sedikitpun membuka mulut.
“Sore, Tante!” sapa Andry tersenyum ramah.
“Apa kamu temannya Sam?”
“Iya, Tante. Nama saya Andry, Tante. Saya teman sekelasnya Sam.”
“O-oh, silahkan masuk, Andry.” ujar wanita itu ramah.
“Iya, makasih Tante.” gumam Andry sembari mengikuti langkah wanita itu.
“Kamu duduk saja. Anggap ini seperti rumah kamu sendiri.” ujar wanita itu.
“Iya, Tante.” sahut Andry dengan hormat.
“Oh iya..Ndry, kalau kamu mau minum, ambil saja di dapur.” ujar Sam sembari melangkah menuju kamarnya.
“Kamu mau minum apa, Ndry?” tanya wanita itu sembari melempar senyum.
“Mm..tidak usah Tante.”
“Jangan sungkan-sungkan. Anggap saja ini rumah kamu sendiri.”
“Mm..kalau begitu, air putih saja Tante.”
“Ya sudah. kamu tunggu disini, ya?” ujar wanita itu sembari berlalu menuju dapur.
“Iya, Tante.”
Hanya beberapa detik, wanita itu sudah muncul kembali didepan Andry.
“Silahkan di minum.”
“Iya, ma kasih Tante.”
“Iya.” sahut wanita itu tersenyum sembari duduk di sofa yang ada didepan Andry dengan dihalangi sebuah meja kaca.
“Hm..Tante senang banget melihat kamu datang kesini.” ujar wanita itu tampak bahagia. Andry tersenyum menanggapi ucapan itu.
“Ma kasih, Tante. Hm..Tante, boleh saya bertanya sesuatu?” tanya Andry tidak tahan menyembunyikan perasaannya.
“Boleh. Kamu mau tanya apa?”
“Mm..kenapa Sam sikapnya seperti itu sama Tante?” tanya Andry. Wanita itu tersenyum namun tak setulus senyum sebelumnya. Wanita itu menarik nafas dalam-dalam.
“Kamu sudah lama kenal sama Sam?” wanita ini balik bertanya.
“Mm, aku kenal Sam setelah pindah ke SMU Mulia Bhakti, Tante.” sahut Andry.
“Begitu ya? Apa dia tidak ngomong apa-apa sam kamu?”
“Nggak, Tante.” sahut Andry disambut senyum wanita itu.
“Kamu tahu nggak, semenjak Sam lulus dari SMP, baru kamu temannya yang dia bawa ke rumah.”
“Maksud Tante?” tanya Andry tidak mengerti maksud ucapan wanita itu.
“Yah, maksud Tante, teman Sam itu cuma kamu.”
“Masa sich, Tante?”
“Iya! Dan itu semenjak dia dikecewakan sama teman-temannya waktu masih SMP.”
“Sam di kecewakan, Tante?” tanya Andry bingung.
“Iya. Dulu sebelum Mamanya meninggal, Sam itu punya banyak teman. Mereka akrab sekali. Teman-temannya sering datang kesini untuk bermain. Tapi begitu mereka tahu kalau Mamanya Sam mulai sakit-sakitan, mereka malah meledeknya di sekolah. Dia sering diolok-olok sebagai anak dari wanita penyakitan. Dan begitu Mamanya Sam meninggal dunia, mereka malah memutuskan hubungan dan tidak mau lagi berteman sama Sam. Semenjak itu, Sam tidak mau lagi punya teman. Ia sangat benci sama teman-temannya. Dan dia sering berantem sama mereka di sekolah. Tapi, begitu melihat kamu datang kesini, Tante merasa bahagia sekali.”
“Hm..maaf, Tante..kalau Tante tidak keberatan, saya ingin bertanya lagi sama Tante.”
“Silahkan.”
“Tante bilang, Mamanya Sam sudah meninggal..?”
“Iya. Mama kandungnya meninggal sewaktu Sam masih kelas 2 SMP. Saya Mama angkat Sam.”
“Itu sebabnya sikap Sam begitu aneh sama Tante?”
Kedua bola mata wanita itu tampak basah menahan airmata. IA berusaha membendungnya agar tidak jatuh. Tapi akhirnya usaha wanita itu sia-sia saja. Karena beberapa titik airmata sudah membasahi wajahnya.
“Ia belum bisa menerima kehadiran Tante. Tapi itu bukan masalah buat Tante. Apapun yang diperbuatnya, Tante tetap mendukungnya. Tante sayang sama dia dan Tante tidak mau kehilangan dia.” ucap wanita itu bersama isakannya. Melihat itu Andry merasa sangat terharu akan ketulusan hati wanita itu.
“Sabar ya, Tante, suatu saat Sam pasti bisa memahami ketulusan Tante.”
“Semoga saja, Ndry. Tapi kamu jangan bicara apa-apa sama dia, ya? Aku tidak mau dia kehilangan kamu lagi. Kalau kamu ikut campur sama masalah ini, dia akan marah sama kamu.”
“Iya, Tante.”
“Kamu janji, ya? Tante tidak mau dia kehilangan teman lagi. Sudah terlalu lama dia hidup tanpa teman-temannya. Aku tidak ingin dia sendiri lagi.”
“Iya Tante, saya berjanji tidak akan ikut campur.”
“Makasih, Andry..kamu sudah mau jadi temanya Sam.”
“Saya juga senang berteman sama Sam koq, Tante.”
“Tante tidak tahu lagi harus berkata apa. Tante sedih melihat keadaan Sam. Semenjak perbuatan teman-temannya, ia sulit untuk percaya sama orang lain. Tapi Tante benar-benar tidak menyangka di sekolahnya yang baru, dia bisa punya teman yang baik seperti kamu. Tante berharap kamu bisa membantu Tante untuk membuat rasa percaya Sam tumbuh kembali.”
“Iya, Tante. Saya akan ikut membantu Tante.”
“Ya sudah, sebelum Sam marah sama kamu, temui dia di kamarnya. Tapi kamu jangan cerita apa-apa.”
“Baik, Tante.” sahut Andry. IA beranjak dari kursinya. “Saya masuk dulu, tante.”
“Iya.” sahut wanita itu dengan senyumnya yang lembut.
“Ngapain aja kamu sama dia? Kalian ngomongin apa?” tanya Sam begitu Andry masuk kedalam kamar Sam. Pintu kamar itu terbuka lebar. “Dia tidak cerita apa-apa kan sama kamu?”
“Mama kamu baik ya, Sam?” ujar Andry tak menjawab pertanyaan cowok itu.
“Bagus, kamu sengaja menghindar dari peertanyaanku kan?”
“Tante tidak cerita apa-apa sama aku.”
“Kamu mau berbohong sama aku?”
“Yah, untuk apa aku jawab kalau kamu tidak percaya?!” gumam Andry berharap Sam tidak lagi bertanya padanya.
“Awas, kalau sampai kamu ketahuan berbohong, aku tidak segan-segan akan menghajarmu sampai babak belur.” ancam Sam membuat Andry kedr juga.
* * * * *

Jam istirahat sedang berlangsung. James, Ely dan Romy pergi ke kantin. Sedangkan Alexa melangkah menuju kantor guru. Sebagai ketua kelas, ia memang wajib mengantar Absensi kelas setiap jam istirahat pertama. Usai mengantar Absensi, Alexa melangkah menyusuri koridor sekolah hendak menuju Kantin. Tapi saat melihat anak yang sedang berantem di koridor sekolah, Alexa pun segera menghampirinya. Ia semakin terkejut melihat Sam adalah salah seorang pelakunya. Alexa segera melerai perkelahian itu. Dengan cepat ia menarik Sam dari kerumunan itu. Ia membawa cowok itu ke tempat yang sepi tak jauh dari tempat kejadian. Alexa melotot cowok itu. Sam tenang-tenang saja di tatap seperti itu.
“Kapan kamu berhenti menghajar orang?!” bentak Alexa. Sam diam saja seolah tidak mendengar suara apa-apa.
“Apa kamu memang tidak punya hati? Dia sudah terluka, tapi kamu masih berani memukulnya? Apa sich yang kamu mau? Mau membunuhnya?”
“Ini bukan urusanmu. Aku minta kamu jangan sok jadi pahlawan.” kata Sam pelan.
“Aku tidak akan membiarkan kamu melakukan ini lagi.”
“Jangan harap kamu bisa menghentikan aku.”
“Kamu memang tidak punya hati, ya?!”
“Aku rasa kamu sudah tahu itu dari dulu!” sahut Sam dengan tenang.
“Kenapa sich kamu tidak bisa berhenti menyakiti orang?”
“Sudahlah, lebih baik kamu urus urusanmu sendiri.” sahut Sam sembari melangkah meninggalkan Alexa.
“Aku akan lakukan apapun asal kamu mau berhenti menyakiti anak-anak di sekolah ini.” kata Alexa dengan tiba-tiba menghadang langkah Sam.
“Tidak perlu! Jangan buang waktumu hanya buat ikut campur urusanku.”
“Sam, tolong..aku minta kamu menghentikan perbuatanmu itu! Aku akan melakukan apapun asal kamu mau berjanji untuk tidak menyakiti anak-anak di sekolah ini.”
“Berjanji?? Kamu mau melakukan apapun? Kalau aku mau berjanji tapi tidak menepatinya, apa kamu tidak akan menyesal?”
“Aku yakin kamu tidak akan ingkar janji.”
“Jangan bilang yakin. Kamu belum tahu siapa aku.”
“Sam, apa salahnya kamu bersikap baik sama anak-anak di sekolah ini? Walaupun kamu punya masa lalu yang buruk, bukan berarti hari ini juga buruk.”
“Sudahlah. Aku bilang percuma saja.” gumam Sam tidak peduli dengan ucapan Alexa.
“Sebenarnya apa masalah kamu? Apa teman-temanmu menghianatimu?” tanya Alexa membuat Sam melotot padanya. Tapi cowok ini hanya diam.
“Kamu diam itu artinya aku benar. Kamu dikhianati sama teman-temanmu.” kata Alexa melihat Sam diam saja. “Sam, kalau kamu mau, aku bisa jadi temanmu.”
“Aku tidak butuh.”
“Sam, setiap manusia butuh teman.”
“Tapi aku tidak.”
“Kamu jangan menuduh aku pembohong kalau kamu sendiri berbohong. Kalau kamu memang tidak butuh teman, kenapa Andry selalu ada bersamamu?” ujar Alexa. Sam diam saja.
“Tidak masalah kalau kamu nggak percaya sama aku. Tapi aku bersedia membantumu. Aku janji menjadi teman yang baik buat kamu.”
“Sudah kubilang, labih baik kamu urus urusanmu sendiri. Aku tidak butuh nasehat dari kamu, paham!” kata Sam meninggalkan Alexa. Kali ini Alexa tidak lagi menghalangi langkahnya.

“Lex, aku dengar kamu ketemu sama Sam di koridor sekolah. Apa itu benar?” tanya Romy saat jam istirahat sudah selesai. Semua anak SMU Mulia Bhakti sudah masuk kedalam ruangan masing-masing. James, Ely, Romy dan Alexa juga sudah duduk di kursinya.
“Iya, Rom.”
“Apa kamu sudah lupa sama janjimu semalam?”
“Aku ingat, Rom.”
“Kalau kamu ingat, kenapa masih mendekatinya?” tanya Romy menyelidik.
“Dia berantem, Rom. Aku tidak bisa membiarkan dia menghajar anak itu.”
“Apa kamu lupa? Apapun alasannya, kamu tetap tidak boleh ikut campur urusan dia.”
“Rom, apa aku harus membiarkan dia menghajar anak itu?”
“Apapun alasannya, kamu tidak boleh ikut campur urusan dia. Itu adalah perjanjian kita.”
“Rom..”
“Aku heran, jangan-jangan kamu memang sudah di pelet sama dia. Sampai-sampai kamu rela ingkar sama janji hanya buat ngurusin masalah dia. Kalau dia berantem, kamu tinggal melaporkannya sama guru.”
“Tapi, Rom..”
“Kenapa?? Kamu tidak mau dia di hukum sama guru? Kamu mau bilang kalau kamu suka sama dia?” kata Romy membuat Alexa, James dan Ely terkejut mendengarnya.
“Rom, aku melakukannya bukan karena aku suka sama Sam. Tapi karena dia teman kita. Bukankah kita semua yang ada di sekolah ini teman?”
“Sudahlah, kamu tidak perlu mencari alasan. Aku tidak butuh, Lex. Apapun yang kamu katakan, tetap saja kamu sudah ingkar sama janji. Aku benar-benar kecewa sama kamu, Lex.”
“Okey, aku minta maaf, Rom. Aku mengaku salah.”
“Tidak ada gunanya. Semua sudah terjadi. Mungkin lebih baik kita tidak usah lagi bersahabat. Dari dulu kita memang tidak pernah akur.” kata Romy membuat ketiga sahabatnya benar-benar terkejut.
“Kamu bilang apa, Rom?” tanya Alexa dengan suara bergetar.
“Apa masih kurang jelas? Okey, aku ulang sekali lagi, kita tidak usah bersahabat lagi.” kata Romy.
“Rom, kamu jangan berkata begitu? Bagaimana mungkin kamu memutuskan persahabatan dalam waktu secepat ini?” James menasehati Romy.
“Apa belum cukup, jam’s? Apa kamu masih akan terus membela Alexa? Dia sudah ingkar janji! Apa kamu buta?!”
“Aku tidak buta, Rom. Dan aku tidak mau kamu memutuskan persahabatan hanya karena sebuah janji yang seharusnya tidak perlu terjadi?!”
“Sudahlah, Jam’s.”
“Rom, kamu tidak boleh memutuskan begitu saja hubungan yang sudah seperti saudara!” kata Ely berharap Romy menarik kembali ucapannya.
“Apa kamu belum pernah dengar, Ly?? Jangankan hubungan yang hanya sebatas persahabatan, saudara kandung saja bisa dibunuh kalau sudah dikhianati dan di kecewakan.” teriak Romy membuat ketiga temannya sangat terkejut.
“Aku tidak percaya kamu bisa berkata demikian, Rom. Sebenarnya kamu kenapa?! Apa masalahmu sampai membuat kamu jadi seperti ini?!” tanya James curiga.
Tiba-tiba seorang wanita masuk kedalam kelas ini. Wanita itu terkejut melihat anak-anak mengerumuni meja Alexa, James, Ely dan Romy.
“Ada apa ini?!” tanya wanita itu dengan suara nyaring. Anak-anak yang tidak tahu kehadiran gurunya segera bergegas menuju kursinya masing-masing. Begitu juga Romy, Alexa, James dan Ely.
“Apa yang terjadi, Alexa?” tanya wanita itu.
“Tidak ada apa-apa, bu.”
“Kenapa kamu menangis?”
“Saya tidak menangis, Bu. Mata saya cuma kemasukan debu, Bu.” sahut Alexa tidak jujur.
“Ya, sudah kalau begitu.” gumam wanita itu duduk di kursinya. Baru saja wanita itu duduk, tiba-tiba pintu di ketuk dari luar.
“Masuk!” ujar wanita itu sembari menoleh kearah pintu. Tampak Sam dan Andry muncul di pintu dan ,elangkah masuk.
“Darimana kalain?”
“Maaf, Bu. Saya dan Sam habis dari toilet.”
“Okey, silahkan duduk sana.”
“Makasih, Bu.” sahut Andry sembari melangkah menuju kursinya. Begitu juga Sam.
“Pelajaran kita mulai.” kata wanita itu dengan suara nyaring.
“Iya, Bu.” sahut sebagian anak-anak. Sam menoleh kearah Alexa yang ada di meja sebelahnya. Ia terkejut melihat gadis yang tertunduk dalam itu. Berulang kali airmata jatuh membasahi rok birunya. Ia tampak sibuk menghapus airmata yang tak juga berhenti itu. Dan cowok yang duduk disebelahnya mengusap-usap lengan Alexa untuk menenangkannya. Sam tidak tahu apa yang terjadi.

Begitu bel pulang berdentang, anak-anak bubar dari ruangannya masing-masing. James, Ely, Romy dan Alexa masih berada di ruangan kelas 2-A.
“Rom, apa kamu tidak bisa memaafkan aku?” tanya Alexa sudah menangis. James yang duduk disampingnya mencoba menenangkannya dengan merangkul lengan gadis ini.
“Semuanya sudah terlanjur, Lex. Aku tidak bisa memaafkanmu. Dan aku tidak main-main dengan ucapanku. Mulai sekarang kamu jangan lagi dekat-dekat sama aku.”
“Rom, apa kamu sudah gila? Kamu tega memutuskan persahabatan hanya karena masalah sepele?”
“Masalah sepele? Kamu bilang masalah sepele, Jam’s? Coba kalau kamu yang jadi aku, apa kamu tidak sakit hati?”
“Aku memang sakit hati, Rom. Tapi aku tidak akan memutuskan persahabatanku hanya karena sakit hati. Tolong hargai persahabatan kita, Rom. Sejak kecil kita sudah bersama.”
“Sudahlah, aku tidak mau dengar apa-apa lagi. Dan aku tidak akan menarik keputusan yang sudah aku buat. Terserah kalau kalian tetap membela Alexa. Terserah kalau kalian lebih memilih berteman sama Alexa daripada aku. Aku juga bisa hidup tanpa ada kalian.” kata Romy sembari keluar dari ruangan itu.
“Romy!!” panggil James tapi Romy tidak menggubris.”Sebenarnya ada sich sama anak itu? Aneh banget.” gumam James.
“Aku yang salah, Jam’s. Aku sudah ingkar sama janjiku sama dia.” ucap Alexa diantara isak tangisnya.
“Kamu tidak salah, Lex. Janji itu memang seharusnya tidak perlu terjadi. Aku tidak menyalahkan kamu. Sebenarnya aku curiga sama Romy. Belakangan ini dia memang tampak aneh. Dia tidak seperti biasanya.” kata James.
“Aku tidak percaya, semua ini bisa terjadi. Semuanya jadi berantakan.” gumam Ely sedih. James dan Alexa hanya diam walaupun mendengarnya. Semuanya memang sudah berantakan.
* * * * *

bersambung


Baca Tulisan Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Recently on AKTUALISASI DIRI…

AKU, SI PECUNDANG SEJATI

Posted on November 22, 2007. Filed under: humaniora, Puisi, Sastra |

Menyesali Masa SMA

Posted on Agustus 27, 2007. Filed under: Cerpen, humaniora, Sastra, Uncategorized |

SAHABAT

Posted on Agustus 27, 2007. Filed under: humaniora, Puisi, Sastra, Uncategorized |

B I N T A N G

Posted on Agustus 27, 2007. Filed under: Puisi, Uncategorized |

Hello world!

Posted on Agustus 27, 2007. Filed under: Uncategorized |

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.